Banting Setir Pelanggan Tetap Panti

(Putri Anisa Yuliani/J-1)
23/12/2016 04:00
Banting Setir Pelanggan Tetap Panti
(MI/Putri Yuliani)

HENDRIK, 20, sibuk membaluri telur bebek yang baru saja matang dengan tanah. Hingga siang, sudah empat lusin telur bebek ia baluri dengan tanah yang berisi berbagai rempah dicampur dengan garam agar bisa menjadi telur asin. Mantan pengamen yang telah kehilangan setengah dari kaki kanannya itu sedang giat dan semangat mempelajari teknik membuat telur asin di tempat pembinaannya, Panti Sosial Bina Daksa Budi Bhakti, Cengkareng, Jakarta Barat.

Ia bermimpi suatu hari bisa menjadi pengusaha telur asin sungguhan. "Ini masih belajar, suatu saat saya ingin jadi pengusaha telur asin," ucapnya optimistis saat ditemui di panti milik Dinas Sosial DKI Jakarta itu, beberapa waktu lalu. "Di kampung saya, di daerah Cikarang, masih banyak orang-orang yang ternak bebek. Jadi kayaknya gampang kalau buka usaha telur asin di rumah. Ini usaha setelah saya pensiun mengamen," canda Hendrik.

Ia berhenti mengamen setelah separuh kaki kanannya terpaksa diamputasi akibat jatuh saat hendak turun dari bus seusai mengamen. Mendapati kondisinya seperti itu, pemuda itu mengaku sempat depresi selama berbulan-bulan. Mengamen sejak usia 13 tahun, tepatnya mulai 2009, membuat Hendrik sudah 'akrab' dengan kehidupan panti sosial. Sudah tak dapat dihitung dengan jari berapa kali ia harus bolak-balik masuk panti karena terjaring penertiban petugas Satpol PP.

"Saya ini sudah seperti pelanggan tetap di panti ini. Petugasnya juga sudah pada kenal," kembali Hendrik bercanda. "Tapi waktu itu, pembinaan yang diberikan tidak saya tanggapi serius. Saya pikir, ngapain serius-serius amat? Kan sebentar lagi keluar panti dan bisa mengamen kembali," ujarnya. Setelah kakinya diamputasi, pikirannya pun berubah. Ia menekuni pembinaan yang diberikan panti dengan serius. Tinggal di panti pun ia rasakan mulai bermanfaat karena banyaknya keterampilan yang diajarkan sehingga menimbulkan ide usaha baginya.

Setelah selesai dibina, Hendrik menyebut akan langsung pulang ke kampung halamannya dan membuka usaha telur asin kecil-kecilan. Saat ini, untuk uji coba, Hendrik baru memasarkan telur asin buatannya di warung-warung sekitar panti. Sementara itu, Kepala Panti Sosial Bina Daksa Budi Bhakti, Prayitno, mengemukakan, tidak hanya keterampilan membuat telur asin yang diajarkan.

Hendrik dan kawan-kawan juga mendapat pelatihan keterampilan membatik, membuat keset, sapu lantai, dan sebagainya. "Pelatihan itu untuk jadi bekal mereka begitu keluar panti. Karena kami berupaya agar mereka mampu hidup mandiri meskipun memiliki keterbatasan. Di sini kami berikan motivasi kepada mereka," ujar Prayitno.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya