PERNAHKAH terpikir bagaimana es batu yang sering kita komsumsi berasal?
Bagaimana mereka mendistribusikannya dan bagaimana mereka mengemasnya?
Mungkin sedikit di antara kita yang memikirkan soal itu, sebab saat es telah tercampur sirup dan potongan buah di dalam mangkok, semua itu hilang.
Apalagi di tengah teriknya matahari.
Pedagang atau distributor es balok yang ditemui umumnya tidak memperhatikan unsur kebersihan dan kesehatan.
Sebagaimana ditemukan di tiga pasar Ibu Kota, yaitu Pasar Rumput di Jakarta Selatan, Pasar Palmeriam di Jakarta Timur dan Pasar Senen di Jakarta Pusat.
Es batu sudah menjadi kebutuhan bagi masyarakat Jakarta saat ini.
Karena itu, pemerintah telah menetapkan persyaratan kesehatan kualitas air minum dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 492 Tahun 2010.
Peraturan tersebut bertujuan agar air minum yang dikonsumsi masyarakat tidak mengganggu kesehatan.
Sayangnya, distribusi es batu yang tidak higienis masih mudah ditemui di Ibu Kota.
Penelusuran pertama dilakukan di Pasar Palmeriam, Jakarta Timur. Di sana, sekelompok anak tengah mengerubungi Asep, pedagang minuman susu kocok.
Asep mengaku bahwa ia memperoleh es batu untuk minuman yang ia jual dari seorang distributor yang letaknya tidak jauh dari kiosnya.
Distributor es batu itu berdagang tepat di pinggir rel kereta api. Balok-balok es tersebut tergeletak di pinggir jalan tanpa atap maupun alas dan hanya ditutupi dengan lembaran terpal.
Es batu yang dijual di pasar tersebut tidak memperhatikan unsur kebersihan dan kesehatan.
Anehnya, warga sekitar terbiasa dengan aktivitas perdagangan tersebut.
"Es batu? Untuk es cendol ini? Biasanya dianter dari situ," ucap Gunawan, pedagang es cendol sambil menunjukan arah ke pedagang es batu yang sama.
Di Pasar Rumput, Jakarta Selatan, kondisinya setali tiga uang. Es batunya hanya ditutupi terpal.
Genangan air di mana-mana dan letaknya tepat di sebelah WC umum.
Namun, pembeli tetap saja ramai.
Sebenarnya es batu yang tidak higienis dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat.
Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Pusat, Yudhita Endah mengungkapkan bahwa es yang dijual tanpa memperhatikan unsur kesehatan dan kebersihan tidak layak untuk diminum masyarakat.
Ia menilai bahwa es tersebut tujuan awalnya adalah untuk mendinginkan daging dan ikan, bukan untuk dikonsumsi masyarakat.
Yudhita mengungkapkan pernah terjadi kasus warga sakit perut dan keracunan karena mengonsumsi es batu yang terbuat dari air kali dan zat kimia.