Pak Ogah Kini Menolak Diberi Receh

Fat/J-4
23/10/2015 00:00
Pak Ogah Kini Menolak Diberi Receh
(MI/PANCA SYURKANI)
LALU lintas di jalan-jalan Jakarta yang padat merayap memang rentan dimanfaatkan oleh orang-orang tertentu untuk mencari nafkah.

Di antaranya oleh para joki jalanan yang akrab disebut pak ogah.

Mereka hadir di tengah kemacetan dan kesemrawutan tersebut.

Pada era 90-an, para pengguna jalan biasa memakai jasa para joki tersebut untuk memutarkan arah atau berbelok di tikungan yang padat dengan membayar Rp100.

Karena itulah mereka disebut pak ogah, meminjam nama salah satu tokoh di film boneka si Unyil yang selalu meminta cepek (Rp100) terlebih dahulu untuk mengerjakan sesuatu.

Namun kini, jangan coba-coba memberi imbalan seratus rupiah jika Anda tidak ingin sakit hati.

"Kalau cepek, ogah betul dia. Bisa-bisa dilempar Anda," cetus anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dari PDIP, Hendrawan Supratikno, di tengah forum diskusi yang digelar Kwik Kian Gie Business School, Rabu (21/10).

Entah pengalaman pribadi Hendrawan atau bukan dilempar recehan oleh joki jalanan, seratus rupiah kerap dipandang sebelah mata dan dinilai tidak setimpal.

Padahal, para joki jalanan beroperasi nyaris di setiap putaran balik dan tikungan Ibu Kota.

Bisa dibayangkan, berapa sering kocek harus dirogoh para pengguna jalan.

Bukan salah Pak Ogah jika kini menolak dibayar seratus rupiah.

Tengok saja, arus urbanisasi yang masif mendatangkan para pemburu mimpi yang menggadaikan aset hidup di desa untuk mengadu nasib di Ibu Kota.

"Banyak orang mau ke Jakarta karena diiming-imingi jadi Pak Ogah saja penghasilannya Rp60 ribu per hari," ungkap wakil rakyat dari Jawa Tengah itu.

Dalam kasus lain, sebut saja Midun, pak ogah yang saya temui dalam perjalanan menuju tempat liputan pagi ini.

Midun beroperasi di putaran balik Tebet menuju Pasar Minggu.

Logatnya masih medok, kendati sudah mahir berbahasa Betawi.

Suatu ketika saya memergoki Midun melempar receh kepada pria bermobil mewah yang sudah dibantunya memutar arah, pemandangan yang membuat kesal.

Setengah geram saya meneriakinya, "Bersyukur kek, Bang!"

Midun menyahut dengan sengit, "Gopek buat apaan!"

Menurut Hendrawan, pak ogah masa kini paling tidak mesti diberi imbalan Rp1.000.

"Makanya kalau sekarang namanya bukan 'ogah cepek', melainkan 'ogah seceng'," selorohnya.

Bukan cuma pak ogah, pengemis pun kerap bertingkah jika diberikan uang receh.

Salah seorang wartawan surat kabar, sebut saja Siti, gemar mengantongi recehan dalam kantongnya untuk diberikan kepada para pengemis dan pak ogah.

Suatu sore, seorang pengemis melempar receh yang baru dia berikan sembari berkata kasar.

Beruntung Siti cukup lapang hati, "Padahal satu juta kurang 'cepek' juga namanya bukan satu juta ya," ujarnya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya