Siap-Siap Berubah Kultur di Hunian Vertikal

(Nic/J-1)
16/12/2016 02:30
Siap-Siap Berubah Kultur di Hunian Vertikal
(DOK MI)

MUNCULNYA perubahan kultur menjadi salah satu dampak tak terelakkan dari hadirnya hunian vertikal. Konsep rumah yang selama ini lekat dengan menapak di tanah kemudian berubah ke gedung-gedung pencakar langit akan mengubah perilaku para penghuninya. Sosiolog Universitas Padjadjaran, Yusar, menilai masyarakat Jakarta cukup siap dengan konsep baru hunian tersebut. Namun, terdapat sejumlah hal yang mutlak sifatnya jika hendak membudayakan hunian vertikal.

"Ini mutlak harus ada, setiap gedung wajib memiliki ruang terbuka publik dan tempat-tempat pertemuan. Jadi, di bawah mereka bisa bersosialisasi, begitu di atas mereka masuk ke ranah privasi," tutur Yusar. Kehadiran ruang publik itu menjadi vital. Di Hong Kong pada era 1960-an silam, pemerintah setempat sempat memaksakan konsep hunian vertikal pada warga mereka tanpa sejumlah fasilitas penunjang dan kesiapan mental masyarakatnya. Akibatnya angka bunuh diri di Hong Kong meningkat kala itu.

"Karena itu, ruang publik menjadi hal yang wajib ada meski di apartemen sekalipun. Untungnya rusun di Jakarta saat ini rata-rata sudah memiliki ruang publik seperti RPTRA (ruang publik terpadu ramah anak). Jadi, saya rasa tidak masalah," tuturnya. Sejumlah nilai yang dianut di lingkungan rukun tetangga, lanjut Yusar, sebetulnya bisa diadopsi pada lingkup hunian vertikal. Nilai-nilai tersebut misalnya kebiasaan arisan sebagai sarana berkumpul dengan para tetangga. "Sistem-sistem bermasyarakat di lingkup rukun tetangga malah bisa dipertahankan," katanya.

Selain itu, membudayanya hunian vertikal dapat mengurangi arus urbanisasi dari Jakarta menuju ke area-area sekitar seperti Bekasi, Depok, Bogor, dan Tangerang. "Sehingga muncul efektivitas dari segi waktu tempuh dan biaya perjalanan. Jadi, orang yang bekerja di Jakarta tetap bisa tinggal di Jakarta. Tapi tentunya harus ditunjang oleh sistem transportasi massal yang menjangkau seluruh wilayah agar perubahan kultur itu menjadi benar-benar efektif," tegasnya. Salah seorang warga Bekasi Barat yang bekerja di Jakarta, Wita Adelina, 24, mengaku menghabiskan waktu 4 hingga 5 jam dalam sehari untuk menempuh perjalanan. Ia pribadi menilai konsep membudayakan hunian vertikal sebagai suatu hal yang harus dicoba. Selain lebih efisien waktu, itu hemat ongkos perjalanan.

"Meskipun kulturnya berubah, itu enggak masalah. Karena selama ini waktu saya habis di perjalanan, waktu di rumah sudah bukan buat bersosialisasi lagi, melainkan untuk istirahat. Kalau pindah ke rusun, selama itu membuat hidup saya lebih praktis, enggak masalah," ujar Wita. Hal senada juga disampaikan seorang karyawan swasta, Ni Wayan Desy, 25. Ia tinggal di kawasan Cakung, Jakarta Timur, dan bekerja di kawasan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Dalam sehari ia menghabiskan waktu hingga 4 jam perjalanan pergi-pulang menggunakan KRL. "Selama harganya terjangkau dan dekat dengan lokasi kantor, enggak masalah. Jadi, bisa jalan kaki, enggak bakal ke macet. Minimal bisa mengurangi stres karena kelamaan di jalan," pungkas Wayan. (Nic/J-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya