PENGUNJUNG restoran cepat saji yang berada di lantai dasar Gedung Sarinah di Jalan MH Tamrin, Jakarta Pusat, belum banyak, ketika tiba-tiba Monce Lily, 41, yang dikenal sebagai preman asal kawasan Tanah Abang, itu masuk dalam keadaan mabuk.
"Mana yang jaga?" teriak Monce, kemarin sekitar pukul 06.20 WIB.
Apryan Cahyo, 22, salah satu pelayan restoran yang saat itu ada di lokasi, ketakutan melihat ulah Monce yang memang sering datang untuk meminta uang ke restoran waralaba tersebut.
Pemuda yang tengah berdiri dekat meja kasir itu tambah gemetaran ketika pelaku menghampirinya.
Melihat Apryan bergeming dan tidak menjawab pertanyaannya, Monce mengamuk.
Mesin hitung yang ada di meja kasir dibanting hingga rusak.
Ulah Monce bukan hanya membuat pegawai restoran kecut.
Beberapa pengunjung yang tengah menikmati sarapan memilih kabur karena khawatir menjadi sasaran laki-laki berwajah beringas tersebut.
"Pelaku datang marah-marah ke saya. Karena takut, saya diam saja. Tapi dia (pelaku) malah mengamuk," cerita Apryan.
Setelah membuat meja kasir berantakan, Monce juga merusak tempat saus dengan cara membantingnya ke meja saji karena Apryan tidak memberinya uang.
Selanjutnya, pelaku juga melemparkan sejumlah meja dan kursi hingga beterbangan ke arah Apryan.
Akibatnya, pelipis pemuda asal Klaten, Jawa Tengah, itu robek.
Tangan dan pinggang kirinya juga terluka.
Karena permintaannya tidak dipenuhi, pengangguran itu beranjak meninggalkan lokasi.
Sebelum keluar, ia menghantamkan meja ke kaca restoran hingga hancur berkeping-keping.
Namun, sebelum preman mabuk itu pergi jauh dari restoran, petugas Kepolisian Sektor Menteng yang menerima laporan dari pengelola restoran segera membekuknya, kemudian membawanya ke kantor polisi.
Kanit Reskrim Polsek Menteng Ajun Komisaris Ridwan Soplanit mengatakan sebelum diringkus pelaku sempat mengeluarkan sebilah golok.
Berdasarkan informasi, pelaku juga kerap mengintimidasi pengusaha dan merusak sejumlah tempat usaha di sekitar gedung Sarinah demi mendapatkan uang yang ia sebut sebagai uang keamanan.
"Sebenarnya pelaku sudah sering seperti itu, tapi korbannya banyak yang tidak melapor karena pelaku selalu mengancam dengan senjata tajam," terang Ridwan.
Ia berharap seluruh warga melaporkan tindak kejahatan yang dialami ke kepolisian sekitar agar kejahatan serupa tidak terjadi lagi di lain tempat.