ANA, 30, menjejak-jejakkan kedua kakinya ke lantai bus beberapa kali untuk mengusir lelah karena hampir 1 jam ia berdiri di dalam bus gandeng.
Sekitar 40 menit di antaranya, bus gandeng Trans-Jakarta koridor 8 rute Lebak Bulus-Harmoni yang ditumpanginya itu, kemarin pagi, terjebak kemacetan di salah satu perempatan di Jalan Panjang, Jakarta Barat.
Pengendara sepeda motor dan mobil berbaur dari segala arah dan semuanya berusaha maju untuk menyeberangi perempatan.
Suara klakson bersahutan meminta celah agar bisa melaju.
Lampu lalu lintas di perempatan yang menyala sempurna diabaikan para pengendara.
Tidak mengherankan jika kendaraan dari empat arah berdesakan di tengah perempatan.
Lalu lintas pun terkunci.
Ana tak sendirian.
Puluhan penumpang lain yang berada satu bus dengannya juga gelisah dan lelah.
Pendingin udara yang meniupkan kesejukan tidak mampu menyembunyikan wajah penat mereka.
Karena itu, ketika sejumlah pengendara motor memotong jalur bus, Ana dan hampir seluruh penumpang tidak bisa lagi memendam kekesalan, dan serentak memaki para pengendara.
"Woy, minggir dong," teriak salah seorang penumpang.
Penumpang juga meminta sopir bus lebih cekatan.
"Maju saja, Pak. Kalau pelan-pelan dan terus mengalah, kapan kita jalan?" teriak Ana kepada sopir yang mengemudi sangat berhati-hati.
Sang pengemudi tampak pasrah.
Tidak ada yang bisa dilakukannya selain mengemudi perlahan karena angkutan massal itu terkepung puluhan sepeda motor dari segala arah.
"Penumpang mohon tenang. Kita akan mulai jalan pelan-pelan. Sesudah ini lancar kok," ujar Yosi, petugas di dalam bus.
Setelah 40 menit, bus berhasil keluar dari kemacetan dan melaju.
Namun, tak lama kemudian kemacetan kembali terjadi di perempatan kawasan Pos Pengumben.
Penyebabnya sama, pengedara mengabaikan lampu pengatur lalu lintas.
Kali ini bus terjebak selama 10 menit.
Syahroni, 45, tukang ojek di kawasan Duri Kepa, mengatakan kemacetan parah di sejumlah perempatan di Jalan Panjang terjadi sejak Jumat (9/10) pekan lalu.
Menurutnya, kemacetan terjadi lantaran banyak kendaraan beralih ke jalan tersebut karena adanya pembangunan flyover Permata Hijau.
"Sudah volume kendaraan membeludak, terutama pada jam padat, pengendara tidak mau lagi mematuhi lampu lalu lintas. Mau merah atau hijau, mereka tetap melaju," ujarnya.
Menurut data Dinas Bina Marga DKI Jakarta, flyover Permata Hijau dibangun sejak Januari lalu dan saat ini mulai memasuki tahap akhir.
Flyover sepanjang 533 meter dan melintas di atas rel kereta commuter line itu akan selesai Desember mendatang dan menghabiskan biaya Rp131 miliar.