Sebagian Sopir Bajaj masih Pilih Konvensional

(Mal/J-2)
09/10/2015 00:00
Sebagian Sopir Bajaj masih Pilih Konvensional
(MI/ATET DWI PRAMADIA)
SEJUMLAH pengemudi bajaj masih memilih mencari penumpang dengan cara konvensional, meskipun saat ini sudah ada layanan bajaj berbasis aplikasi. Alasan mereka beragam. Ada yang merasa gagap teknologi (gaptek), ada pula yang merasa kurang informasi tentang layanan yang baru diluncurkan pada Rabu (7/10) itu. Salah seorang pengemudi bajaj konvensional, Haerandi, 49, mengaku belum mengetahui secara rinci bagaimana proses jika ingin bergabung dengan bajaj daring. "Saya memang diajak sama teman untuk bergabung ke bajaj daring. Cuma saya tanya ke teman tentang bagaimana caranya, dia juga ternyata belum tahu. Ribet lah jika harus ngurus proses-proses gitu," katanya, kemarin.

Selain itu, Haerandi juga belum yakin penghasilannya setelah bergabung dalam bajaj daring bisa meningkat dari saat ini. Pasalnya, jalur operasi bajaj tidak seluas dengan ojek maupun taksi. "Saya belum yakin. Kalau kami, sopir bajaj, dibebaskan narik (mengambil penumpang) itu lain cerita," ujarnya. Pengemudi lainnya menilai kemunculan bajaj berbasis aplikasi bakal mengurangi penghasilan bajaj konvensional. Sama halnya ketika ojek berbasis aplikasi hadir pertama kali. Tono, 46, sopir bajaj konvensional lainnya, ialah salah satu yang mengaku khawatir penghasilannya bakal berkurang.

"Takut karena harus bersaing, pasti. Pendapatan kami saja sudah berkurang karena beroperasinya Gojek dan Grabbike. Ini muncul lagi bajaj daring. Makin pusing," kata laki-laki yang telah 10 tahun mengemudikan bajaj dan biasa memangkal di kawasan Waduk Pluit, Jakarta Utara. Ia mengaku selama menjadi sopir bajaj konvensional, penghasilannya setiap hari tidak menentu. Bahkan beberapa kali ia sempat menomboki untuk membayar setoran kepada pemilik bajaj. "Sehari kadang dapat Rp180 ribu, kadang juga Rp90 ribu. Setoran Rp120 ribu, jadi kalau lagi dapat Rp90 ribu, terpaksa menomboki setoran. Ini gara-gara yang online-online itu. Kami pasrah aja deh mau bagaimana lagi. Bismillah aja deh," ujarnya.

Meski penghasilannya terus menyusut, Tono mengaku enggan bergabung dengan bajaj daring dan tetap mencari penumpang dengan cara konvensional. Ia menganggap proses pendaftaran dan pengoperasiannya terlalu rumit. "Kalau mau daftar, katanya pakai KK (kartu keluarga) asli, dan ditahan. Selain itu, saya enggak mau ribet pakai ponsel segala. Saya sih yang penting narik (beroperasi) aja deh, enggak perlu pakai ponsel gitu," ucapnya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya