PEMBERANTASAN narkotika gencar dilakukan, baik oleh Polri, Badan Narkotika Nasional (BNN), maupun Bea dan Cukai. Namun, ibarat teori Newton, semakin mendapat tekanan, daya tolaknya semakin kuat. Beberapa kasus besar dibongkar dan bandar ditahan, tetapi hal itu tidak menyurutkan peredaran narkotika di Tanah Air. Lantaran permintaan cukup tinggi, masuknya barang haram itu ke Indonesia diprediksi bakal meningkat setiap tahunnya. Riset BNN bersama Pusat Penelitian Kesehatan (Puslitkes) Universitas Indonesia pada 2014 menyebutkan kebutuhan narkotika jenis ganja dalam satu tahun sebanyak 158,52 ton, sedangkan hasil pengungkapan dan penyitaan baru mencapai 17,76 ton saja.
Kebutuhan sabu diperkirakan mencapai 219,44 ton, tetapi hanya 0,40 ton yang dapat terkuak, sedangkan kebutuhan pil ekstasi sebanyak 14,3 juta butir dan baru 1,1 juta yang disita. "Penyebabnya ialah di sini berlaku hukum permintaan dan penawaran," ujar Kepala Bagian Humas BNN Komisaris Besar Slamet Pribadi kepada Media Indonesia, beberapa waktu lalu. Slamet menduga narkotika yang tidak terungkap itu sangat mungkin telah beredar di masyarakat. Kondisi demikianlah yang menjadi alasan sulitnya memberangus jaringan serta sindikat tersebut. Kesulitan serupa diakui Kapolda Metro Jaya Irjen Tito Karnavian.
Menurut dia, Jakarta merupakan wilayah paling potensial dan menjadi sasaran empuk para sindikat internasional untuk mendistribusikan pasokan narkoba. Sindikat tersebut umumnya beroperasi via jalur laut. Mereka berlayar dari negara asal dan memindahkan pasokan ke kapal kecil melalui pelabuhan tikus hingga berakhir ke Jakarta. Pelabuhan tikus sengaja dipilih karena dianggap aman dan minim penjagaan ketimbang pelabuhan resmi. Ada tujuh modus penyelundupan narkoba khususnya sabu yang telah diungkap jajaran Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya, seperti dikemas menggunakan pipa besi atau piston kendaraan, pipa paralon, dinding tas wanita, sepatu dan sandal wanita, termos air panas, aki mobil, dan pipa speaker.
Jalur laut Setelah jalur udara dan darat diperketat, Tito mengungkapkan, kini distribusi narkoba memanfaatkan perairan. Kurun Januari-September 2015, misalnya, Polda Metro Jaya telah mengungkap 3.681 kasus dengan total barang bukti 803,6 kilogram sabu melalui perairan. Seluruh perkara tersebut dilakukan 4.588 tersangka dengan rincian 50 warga negara asing (WNA) dan 4.538 warga negara Indonesia (WNI). Bahkan, pengungkapan kasus serupa pada tahun ini juga meningkat 14% ketimbang 2014.
Kala itu petugas berhasil menangani 3.208 kasus penyelundupan 175,4 kilogram sabu serta meringkus 4.015 tersangka yang meliputi 44 WNA dan 3.971 WNI. Hal senada disampaikan Kepala BNN Komjen Budi Waseso. Menurut Budi, banyaknya pelabuhan tikus yang luput dari pengawasan petugas ditengarai menjadi pintu masuk narkoba ke Indonesia. "Pelabuhan tikus banyak, seperti di Sunda Kelapa dan terutama di Sumatra. Hampir di seluruh Indonesia ada. Itu yang rawan dan dimanfaatkan pelaku untuk melakukan kegiatannya," terang Budi.
BNN pun bakal menggandeng TNI-AL untuk memperketat pengawasan di perairan yang dianggap rawan. Nantinya petugas akan memantau lalu lintas kapal agar lebih dulu masuk ke markas kepolisian perairan sebelum bersandar di dermaga. "Jadi jangan menunggu saja. Kalau perlu jangan hanya illegal fishing, narkoba ini juga kita tenggelamkan di laut termasuk dengan pelaku-pelakunya. Negara ini kan punya kekuatan, jadi tidak boleh kalah dengan mafia," pungkas dia.