Bantuan Bertubi-tubi dari Bangun Keramba hingga Pascapanen

DA/J-4
18/11/2016 02:35
Bantuan Bertubi-tubi dari Bangun Keramba hingga Pascapanen
(MI/Galih Pradipta)

PROGRAM bantuan yang digulirkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk budi daya ikan lewat konsep keramba jaring apung (KJA) menjadi solusi di tengah makin menurunnya hasil tangkapan nelayan tradisional di laut.

Melalui Suku Dinas Kelautan, Pertanian, dan Ketahanan Pangan (KPKP) Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, bantuan kepada petani ikan setempat diberikan dari nol hingga pascapanen.

Bantuan tersebut dilakukan sejak pembangunan infrastruktur fisik keramba, bibit, dan pakan ikan.

Setelah masa panen, antara petani ikan dan pemerintah daerah menggunakan formulasi bagi hasil dengan perhitungan 80% untuk petani dan 20% untuk pemerintah.

Kepala Suku Dinas KPKP Kabupaten Kepulauan Seribu Sutrisno mengatakan potensi terbesar pengelolaan budi daya ikan dengan KJA di Kepulauan Seribu terdapat di Pulau Karang Lebar, Panggang, Kelapa Dua, Tidung, Pari, serta Pulau Lancang.

"Pembinaan budi daya ikan di Kepulauan Seribu dengan KJA saat ini baru ikan kerapu. Ikan itu memiliki daya tahan lebih kuat. Nilai ekonominya cukup tinggi. Jadi, sangat menguntungkan," ungkap Sutrisno.

Di tingkat petani kerapu, harga yang ditawarkan untuk tiap jenis ikan berbeda.

Kerapu cantang, misalnya, dijual dengan harga Rp110 ribu per kilogram (kg).

Kerapu macan Rp120 ribu per kg, kerapu cantik Rp130 ribu per kg, kerapu lode Rp350 ribu per kg, serta kerapu bebek Rp400 ribu per kg.

Nilai ekonomi yang tinggi itu disebabkan kerapu mengandung gizi tinggi dan masa pemeliharaan yang panjang.

Dari beberapa jenis tadi, penetasan hingga panen dapat menghabiskan waktu selama 8-13 bulan.

"Harga itu dari petani, belum kalau sampai di pedagang pasar atau restoran. Bisa berlipat-lipat lagi. Panen perdana budi daya ikan kerapu hasil binaan ini sekitar pertengahan 2015," terangnya.

Untuk menyiasati masa panen yang terus berjalan selama satu tahun, Sutrisno menyarankan para petani menerapkan sistem tumpang sari pada keramba ikan laut.

"Tumpang sari cocok untuk budi daya ikan bawal laut, kakap putih, dan cumi putih. Untuk model ini kita juga sudah kerja sama dengan swasta dalam hal benih dan pakannya. Jadi, aktivitas panen ikan terus berjalan," terangnya.

Saat ini ada 25 kelompok budi daya KJA yang terdaftar di Kepulauan Seribu.

Kelompok tersebut mengelola 377 keramba ikan.

Hasil budi daya biasanya langsung didistribusikan para petani ikan ke pelanggan masing-masing.

"Harapan kita masyarakat makin mandiri, tidak mengandalkan bantuan pemerintah. Awalnya penjualan hasil budi daya kami bantu pemasarannya, tapi sekarang mereka sudah memiliki pembeli sendiri yang menjemput ke keramba," kata Wawan, Kepala Seksi Kelautan dan Perikanan KPKP Kepulauan Seribu.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya