Nasib Metromini di Ujung Umur

02/11/2016 05:00
Nasib Metromini di Ujung Umur
(ANTARA)

SUARA khas mesin diesel menyeruak tak beraturan dari pedal gas yang diinjak Narodom, 48. Pengemudi metromini 92 jurusan Ciledug-Grogol itu mulai hilang sabar melihat kepadatan lalu lintas di Jalan Kedoya, Jakarta Barat, Selasa (1/11).

Ia tidak mau menunggu. Dibantingnya kemudi ke arah kanan, mengambil jalur milik kendaraan dari arah berlawanan yang lebih lowong. Laju metromini yang mendadak, mengirimkan asap hitam bau dari knalpot butut bus itu. Membuat para pengemudi sepeda motor yang mengantre di belakangnya serentak menutup hidung dan mulut. Di sisi kanan, pengemudi motor dari arah berlawanan buru-buru menepi, khawatir bus tua keluaran 1995 yang mengambil jalur mereka oleng atau menabrak. "Mobil ini memang tua. Tapi, masih bisa narik," kata Narodom.

Metromini itu hanya diisi sedikit penumpang. Lebih dari separuh kursi kosong. Menurut Narodom, kondisi demikian terjadi setiap hari. Ia mengaku sengaja menyetir serampangan demi mengejar setoran. "Kadang malah setoran enggak nutup. Makanya wajar kalau sopir kendaraan umum ngetem lama atau kebut-kebutan di jalan," ujarnya.

Metromini masih belum bisa bergabung untuk kerja sama operasi dengan PT Trans-Jakarta. Kepala Bidang Angkutan Darat dan Perkeretaapian Dinas Perhubungan dan Transportasi (Dishubtrans) DKI Jakarta Massdes Arroufy menjelaskan, belum sahnya manajemen Metromini sebagai satu badan hukum menjadi penghambat kerja sama tersebut. Sebabnya, setiap operator yang ingin bekerja sama dengan Trans-Jakarta harus berbadan hukum.

Kondisi serupa Metromini juga terjadi pada sebagian pengusaha Kopaja yang belum bergabung dengan Trans-Jakarta. Eddy, 52, salah satu sopir Kopaja P20 jurusan Senen-Lebak Bulus mengatakan, saat ini yang pusing bukan cuma para sopir, tetapi juga pengusaha. "Pada pusing semua. Penumpang makin sepi, kebutuhan gede," katanya.

Eddy menuturkan, dia dulu sempat memiliki beberapa kendaraan umum. Namun, satu per satu harus dijualnya akibat rugi dalam pengelolaan. "Waktu itu saya punya dua metromini dan satu kopaja. Sekarang sudah habis terjual.

"Di sisi lain, Heni, 36, penumpang metromini 92 menuturkan, ia masih bertahan naik bus reot itu karena belum ada Trans-Jakarta yang melayani rute Grogol sampai Ciledug. "Jadi mau enggak mau naik metromini. Soalnya mau naik apa lagi? Katanya ada bus Trans-Jakarta yang mau gantikan. Mudah-mudahan saja cepat direalisasikan," ujarnya.

Sementara itu, Humas PT Transjakarta Prasetya Budi mengatakan, pengadaan bus baru pengganti metromini dan kopaja tengah dilakukan Pemprov DKI. Akhir 2016 diharapkan 300 bus sudah datang. (Deni Aryanto/Putri Anisa Yuliani/J-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya