Strategi Lawan Arus akan Diperluas

01/11/2016 06:10
Strategi Lawan Arus akan Diperluas
(ANTARA)

PENERAPAN strategi lawan arus atau contraflow bagi bus Trans-Jakarta pada rute Sudirman-Rawamangun dinilai efektif mengurai kemacetan.

Waktu tempuh menjadi singkat, hanya sekitar 35 menit.

Humas PT Trans Jakarta Prasetya, Budi, mengatakan, setelah strategi diberlakukan selama sepekan, jumlah penumpang di rute tersebut mengalami peningkatan dari 19 ribu menjadi 23 ribu per hari.

"Sejak awal uji coba diberlakukan, telah terjadi peningkatan penumpang sebanyak 4.000 orang per hari," ujarnya.

Ia menilai, selama separator beton MCB (movable concrete barrier) terpasang dengan baik dan jumlah armada memadai, strategi serupa bisa diterapkan di lokasi lain karena jalur Trans-Jakarta yang dilengkapi separator beton MCB relatif bersih.

Dampak positif terlihat, misalnya, pada ruas jalan dari lampu merah Jalan Matraman ke lampu merah Jalan Tambak.

Biasanya, warga membutuhkan waktu lama untuk berkendara di antara kedua jalan itu karena banyaknya kendaraan pribadi yang menerobos jalur Trans-Jakarta.

Hasil itu dicapai, kata dia, berkat upaya sterilisasi yang dilakukan dengan intensif.

"Dengan berjalan dari arah yang berlawanan, bus pada pagi hari tidak mengalami kemacetan. Hasilnya sudah 98%-99%," tuturnya.

Berangkat dari hasil uji coba yang positif itu, Dinas Perhubungan dan Transportasi (Dishubtrans) DKI Jakarta berencana menambah titik penerapan di jalur-jalur yang memiliki beton MCB.

"Koridor-koridor yang memiliki beton MCB saat ini terbilang tertib, misalnya, Koridor 6 (Ragunan-Dukuh Atas 2) dan rute PGC (Pusat Grosir Cililitan) ke Pluit. Terlebih, di sana ada permintaan bus Trans-Jakarta yang cukup tinggi," kata Wakil Kepala Dishubtrans Sigit Widjatmoko.

Rute Rawamangun-Sudirman dinilai ideal karena sudah menggunakan 40 bus Trans-Jakarta di Koridor 4 dengan rincian 20 unit di rute TU Gas ke Grogol dan 20 unit di rute TU Gas ke Bunderan Senayan.

Sigit menambahkan strategi lawan arus itu juga digunakan untuk membagi konsentrasi warga Jakarta Timur yang saat ini banyak menggunakan kereta rel listrik (KRL) commuter line.

Penerapan di jam sibuk pukul 06.00-09.00 diharapkan bisa memecah jumlah penumpang.

"Dengan jarak tempuh pendek dan harga yang bersaing, kita coba alternatif untuk jalur tertentu sehingga tidak terjadi penumpukan. Beban penumpang jadi terbagi," jelas Sigit.

Ia menambahkan strategi lawan arus juga bisa mengurangi jumlah kendaraan pribadi, terutama motor yang masuk ke jalur bus Trans-Jakarta.

Arus bus yang berlawanan dengan arus utama membuat para penerobos berpikir ulang karena.

Pembersihan jalur ini juga berlaku bagi mobil-mobil dinas kepolisian yang selama ini mengantongi keistimewaan melewati jalur bus Trans-Jakarta. (Aya/J-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya