Berangkat Kerja Bisa Lebih Siang

Budi Ernanto
01/11/2016 06:00
Berangkat Kerja Bisa Lebih Siang
(MI/Atet Dwi Pramadia)

KEMACETAN di Persimpangan Matraman hingga lampu merah di Jalan Tambak, Jakarta Timur, yang kerap menjadi neraka bagi penumpang bus Trans-Jakarta jurusan Rawamangun-Sudirman kini tak ada lagi.

Sejak uji coba strategi lawan arah atau contra flow diberlakukan untuk rute tersebut, bus bisa melenggang dengan mulus tanpa hambatan hingga Jalan Sudirman.

Waktu perjalanan pun bisa dengan tepat diperhitungkan, paling lama 35 menit.

Rute itu merupakan bagian dari Koridor 4 rute Dukuh Atas-Pulogadung.

Fahmi, petugas Trans-Jakarta yang ditemui di halte TU Gas, mengatakan kemacetan di Persimpangan Matraman hingga lampu merah di Jalan Tambak itu biasanya bisa mencapai 20 menit.

"Kalau tidak melawan arah, dari halte TU Gas ke Dukuh Atas bisa butuh waktu 55 menit. Itu 55 menit tanpa macet ke Bundaran Senayan ya. Kalau macet bakal lebih lama lagi," jelasnya.

Berdasarkan reportase Senin (31/10) pagi, waktu tempuh dari halte TU Gas sampai Bundaran Hotel Indonesia hanya 33 menit.

Bus tidak melawan arus di sepanjang rute, melainkan hanya di lampu merah Matraman ke lampu merah Jalan Tambak di jam sibuk pukul 05.00-09.00.

Pemasangan separator beton MCB (movable concrete barrier) di sepanjang jalur itu efektif menghalau kendaraan pribadi, baik mobil maupun motor, untuk tidak melintasi jalur Trans-Jakarta.

Ditambah lagi, di beberapa titik di sepanjang jalur ada petugas Trans-Jakarta yang membuka tutup palang di ujung jalur.

Jalur itu kemarin pagi bersih dari pelanggaran.

"Kalau sampai di Halte Tosari lewat dari 35 menit, pasti sopir dimarahi petugas di halte itu," kata Fahmi.


Beralih

Keberadaan bus lawan arus tersebut disambut dengan gembira oleh pekerja di kawasan Jalan Sudirman dan Jalan MH Thamrin yang tinggal di Timur Jakarta.

Waktu perjalanan mereka kini bisa diprediksi, tidak ada lagi rasa waswas terlambat tiba di kantor karena dihadang kemacetan.

Mereka pun tidak perlu lagi berangkat lebih awal demi menghindari kemacetan di lampu merah Jalan Tambak.

Hartati, warga Pulogadung, misalnya.

Sejak strategi lawan arus diberlakukan, ia selalu tiba di kantor tepat waktu.

"Yang saya mau sebenarnya bukan cepat, tetapi ada kepastian waktu. Kalau berangkat pukul 07.00 ya bisa dikira-kiralah sampai kantor jam berapa," ujarnya.

Ia berharap kebijakan itu tidak hanya diberlakukan di Koridor 4, tetapi juga koridor lain.

Sementara itu, Nur Endah, warga Rawamangun, memilih berhenti naik ojek daring sejak rute lawan arus diberlakukan akhir pekan lalu.

Ia jadi berhemat ongkos.

Kalau sebelumnya ia mesti mengeluarkan Rp12 ribu untuk sekali perjalanan dengan ojek, sekarang dia cukup mengeluarkan Rp3.500 untuk naik Trans-Jakarta.

"Waktu tempuhnya lebih singkat dan lebih hemat," ujar pekerja yang berkantor di bilangan Sudirman ini.

Lain lagi dengan Agung, warga Rawamangun.

Ia kini memilih berangkat kerja pada pukul 07.30.

"Saya sekarang bisa yakin sampai kantor tepat waktu sebelum jam 08.30. Sebelumnya saya harus berangkat minimal 1,5 jam lebih awal supaya tidak terlambat," kata Agung.

Sebelumnya, Wakil Kepala Dinas Perhubungan dan Transportasi (Dishubtrans) DKI Sigit Widjatmoko menyatakan rute Sudirman-Rawamangun menjadi proyek percontohan untuk penerapan lalu lintas lawan arus khusus bus Trans-Jakarta.

Rute itu dipilih karena lalu lintas bus Trans-Jakarta di kawasan itu sudah tertib.

"Dengan demikian, contra flow bisa dilakukan untuk memperpendek waktu tempuh yang bisa meningkatkan animo warga berpindah moda transportasi," kata Sigit. (Beo/Put/J-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya