Ritual Curhat yang Hilang di Balai Kota

29/10/2016 08:55
Ritual Curhat yang Hilang di Balai Kota
(MI/SUSANTO)

DUA teko berisi teh dan kopi sudah tersaji sejak pukul 07.00 WIB di meja tamu yang berada di pendopo Balai Kota Jakarta, Jumat (28/10). Menyediakan teh dan kopi di situ sudah seperti ritual wajib yang dilakukan Biro Rumah Tangga Balai Kota untuk menyambut warga masyarakat yang setiap pagi biasa 'mencegat' Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Namun, hingga Jumat (28/10) siang, dua teko itu masih penuh hingga menjelang siang. Hanya tiga atau empat gelas plastik yang terpakai hingga tengah hari.

Pemandangan itu berbeda dari hari-hari sebelumnya. Biasanya, petugas dari Biro Rumah Tangga harus bolak-balik mengisi teko tersebut agar tetap penuh karena banyaknya warga yang minum sembari antre untuk menemui Ahok.

Ritual penyiapan teh dan kopi itu seperti sudah sama wajibnya dengan ritual Ahok menemui warga sebelum ia berkantor. Setiap pagi, ia menyempatkan diri mendengarkan keluh kesah hingga protes warga atas layanan aparat pemerintahan.Namun, sejak Ahok cuti mulai Jumat (28/10), antrean itu tak lagi terlihat.

Sumarna, petugas keamanan di pintu utama Balai Kota, mengatakan sejak pagi Balai Kota sepi. Warga yang biasanya sudah membentuk dua barisan, satu barisan untuk warga yang hendak berswafoto dan satu barisan untuk warga yang menyampaikan pengaduan, sejak pukul 07.00 tak tampak.

"Biasanya malah dari pukul 06.00 sudah ada warga yang datang. Hari ini sepi sekali. Hanya ada beberapa orang yang datang, tapi langsung pulang," kata Sumarna.

Ahok bersama Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat mengambil cuti karena menjadi petahana dalam Pilkada DKI Jakarta. Kementerian Dalam Negeri telah menunjuk Dirjen Otonomi Daerah Sumarsono untuk menjadi pengganti mereka dalam menjalankan roda pemerintahan.

Namun, sejak Pelaksana Tugas Gubernur DKI Jakarta itu tiba di Balai Kota pukul 06.45, tidak ada satu pun warga yang datang untuk menyampaikan pengaduan.

Yos, 64, warga Kalibata, Jakarta Selatan, tak kuasa membendung kekecewaannya lantaran gagal bertemu Ahok. Ia hampir menitikkan air mata karena harapannya mendapat bantuan dari orang nomor 1 di DKI Jakarta itu telah pupus. Ia mengaku bingung karena harus membayar tunggakan sewa rumahnya, yaitu Rp900 ribu. "Saya sudah bingung mau ke mana lagi," katanya.

Ahok dikenal kerap memberikan bantuan uang kepada warga yang sedang dirundung masalah keuangan.

Ia tak pernah ragu merogoh kocek uang operasionalnya selaku gubernur untuk diberikan kepada warga yang mengadu kepadanya. (Yanurisa Ananta/J-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya