Bertani dengan Risiko Tinggi

27/10/2016 07:35
Bertani dengan Risiko Tinggi
(MI/Galih Pradipta)

RISIKO bertani di pinggir Kanal Banjir Timur (KBT) disadari warga yang bercocok tanam di sana.

Jika hujan berlangsung lebih dari satu jam, sayuran yang ditanam bakal rusak.

Apalagi kalau volume air yang ditampung KBT meningkat, semua tanaman tersapu aliran air KBT.

Hal itu pernah dialami Sukiyanto, 60, warga yang becocok tanam di sana.

Dari 10 jenis sayuran yang dia tanam sejak dua bulan lalu, 5 di antaranya hancur akibat dihantam hujan lebat sepekan lalu, dan 3 hanyut karena banjir.

Hanya singkong dan kacang panjang yang bertahan.

"Singkong dan kacang panjang, saya tanam di lahan yang lebih tinggi. Jadi tidak terkena banjir. Kalau sudah begitu, ya, dinikmati saja. Kita tanam ulang lagi," ujar Sukiyanto tanpa beban.

Bagi dia, bercocok tanam di pinggir KBT harus siap menerima risiko tersebut.

Jika tidak, perasaan jengkel dan marah yang muncul. Padahal, hujan ialah rezeki dari Tuhan. Rezeki tidak boleh disesali atau dicaci maki.

"Kadang ada yang bilang...sialan hujan karena tanamannya rusak akibat hujan. Tidak boleh itu! Apa pun harus disyukuri," tukasnya.

Pengalaman serupa juga pernah dialami Wandi, 71, yang menanam sayuran dan ubi di pinggir KBT di kawasan Kelurahan Pondok Kopi.

Ia pernah hanya menikmati hasil panennya hanya 14 ubi, yang lain mati.

Padahal, ia telah menungu selama empat bulan untuk memanen ubi di lahan seluas 3 meter kali 10 meter itu.

"Itu akibat sering terkena air karena sering hujan. Namun, jika kondisi cuaca sedang baik, ubi yang ditanamnya bisa terkumpul hingga 50 kilogram," ungkap Wandi.

Terkadang ubi yang dipanennya itu, dia jual ke pasar dengan harga Rp3 ribu per kilogram.

Namun, kalau tidak layak jual, ubi tersebut dia konsumsi sendiri atau sekadar dibagi-bagikan ke tetangga.

Karena hanya mendapat hasil seadanya, mereka pun tidak mematok harga yang tinggi.

Asalkan ada sisa sedikit untuk membeli bibit.

Misalnya, untuk kangkung dan bayam biasanya dijual dengan harga Rp1.000 per ikat.

"Kami tidak kejar untung karena jualnya saja sudah murah. Tanaman di sini tanpa pestisida dan pupuk buatan. Semua alami, hasilnya tidak ditarget harus berapa," tandas Wandi. (Beo/J-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya