Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
TUJUH lelaki dengan topi caping anyaman bambu asyik bercocok tanam sayur-mayur di pinggir Kanal Banjir Timur (KBT), sore hari, di akhir pekan lalu.
Dari fisiknya, mereka terlihat berusia uzur.
Ada yang asik mencangkul, menaburkan benih tanaman, dan menyirami tanaman dengan air dari KBT.
Ada juga yang tengah memetik hasil jerihnya selama ini.
Salah satunya ialah Wandi.
Lelaki berusia 71 tahun ini mengatakan sedimentasi di pinggir KBT sayang disia-siakan.
Di sana, ia menanam ubi sejak empat bulan lalu.
Alasannya, menanam ubi tidak terlalu repot harus setiap hari menyiraminya. Apalagi, dia masih memiliki pekerjaan.
"Saya punya pekerjaan setiap harinya, jadi tidak mungkin mengurus yang harus disiram terus. Ini sekalian untuk olahraga dan refreshing," kata Wandi, warga Pulo Gebang, Jakarta Timur, akhir pekan lalu.
Jenis tanaman yang biasa ditanam di sana, seperti bayam, kangkung, singkong, ubi, cabai, dan jagung.
Wandi mengaku tidak berlatar belakang pertanian atau sebelumnya pernah bertani.
Tata cara bercocok tanam diketahuinya sembari jalan hanya berdasarkan pengalamam tetangganya.
Misalya, untuk kangkung harus disirami dua kali sehari, pagi dan sore hari.
Sementara bayam, seperti kangkung, tapi siang juga harus disiram.
Untuk beberapa jenis tanaman lain, seperti kacang-kacangan, sawi, dan cabai, rata-rata waktu untuk menyiraminya sama seperti kangkung dan bayam.
Untuk menanam ubi, Wandi tidak memakai pupuk.
Setelah ditanam, disiram, dan dirawat, ia menyerahkan semua hasilnya kepada Allah.
"Kalau tetangga saya memakai pupuk kandang dan kompos. Saya tidak, serahkan hasilnya kepada Allah. Alhamdulillah bisa bertanam sekalian berolahraga," ungkapnya.
Masa panen di sana berbeda-beda.
Misalnya ubi, empat bulan.
Untuk bayam dan kangkung sekitar 40 hari.
Lalu, cabai dan selada, dua hingga tiga bulan.
Kembang kol, seledri, kacang panjang, terong, dan tomat, usia panennya hampir sama dengan ubi.
Seusai dipanen, Wandi dan warga lainnya menanam lagi dengan bibit yang didapat dari pasar di dekat tempat tinggal mereka.
Sukiyanto, 60, tetangga Wandi, mengatakan untuk satu jenis tanaman, dia mengeluarkan uang sekitar Rp5 ribu hingga Rp10 ribu untuk mendapat 5.000 bibit.
"Selain itu, harus beli cangkul, tali pembatas, dan alat untuk menyiramnya," kata Sukiyanto.
Sementara itu, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane, T Iskandar, mengatakan tidak ada masalah jika warga menggunakan pinggir KBT untuk bercocok tanam.
Namun, tumbuhan yang bisa ditanam hanyalah jenis palawija, seperti milik Wandi dan Sukiyanto.
"Silakan saja tanam, tapi palawija ya, kalau kena banjir, pasti hancur. Jadi, risiko kalau tanam di pinggir KBT itu. Kami sudah melarang warga menanam tumbuhan yang besar, seperti mangga dan pisang karena bisa menghambat aliran air dan akarnya juga bisa merusak struktur tanah. Sebenarnya risiko juga ada pada warga, mereka harus hati-hati karena kalau tergelincir, ya bisa nyebur," ujarnya Iskandar.
Iskandar mengingatkan kegiatan warga tidak diperbolehkan jika mengganggu fungsi KBT.
Area KBT harus dikontrol, misalnya, tidak boleh dijadikan area berdagang dengan bangunan semipermanen meskipun untuk waktu-waktu tertentu. (J-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved