Penghasilan Minim, Susi belum Bisa Bayar

Nicky Aulia Widadio
22/10/2016 11:45
Penghasilan Minim, Susi belum Bisa Bayar
(Ilustrasi)

"BU Vero, kelas menjahitnya jangan cuma di cluster B, dong. Kita di cluster A juga mau (belajar menjahit)," kata salah satu warga Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Marunda, Nurheti, 39, kepada istri Gubernur DKI Jakarta, Veronica Tan, ketika meresmikan ruang menjahit bagi penghuni rusun, Rabu (19/10).

Veronica pun mengiyakan permintaan Nurhaeti. Apalagi, program belajar menjahit memang ditujukan untuk mengangkat perekonomian warga Rusun Marunda. Dengan kemampuan menjahit, para ibu diharapkan bisa memanfaatkannya untuk memperoleh penghasilan tambahan. Terlebih sebagian penghuni rusunawa di DKI menunggak sewa total Rp22 miliar.

"Iya, biar enggak pada nunggak lagi, ya bayar sewanya," jawab Veronica. Selain membuka kelas menjahit, Ketua Tim Penggerak PKK DKI itu sekaligus menyediakan 10 mesin jahit di sana.

Penghuni Rusun Marunda memang merupakan penunggak sewa terbanyak bila dibandingkan dengan rusunawa lain. Berdasarkan data Dinas Perumahan dan Gedung Pemda DKI, sekitar 2.300 dari 2.580 keluarga yang menghuni rusun tersebut sejak 2013 menunggak senilai Rp6 miliar.

Salah satu warga RW 10 cluster A, Susi, 32, mengaku menunggak sewa unit hunian yang ditempatinya sejak Juni 2013. Saat ini tunggakannya telah mencapai Rp21 juta.

Perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai petani di Green House rusun setempat mengaku tidak sengaja menunda-nunda membayar sewa. Alasannya, penghasilan sebagai petani tidak pernah tetap. Ia dan pekerja lainnya baru bisa memperoleh penghasilan saat panen.

"Sekali panen paling hanya dapat Rp200 ribu. Kalau ditambah sampingan, paling-jadi Rp500-an ribu," ujar Susi.

Janda yang kini tinggal berdua dengan ibunya itu menyebutkan biaya sewa unit hunian yang ditempatinya sebesar Rp371 ribu per bulan, belum termasuk biaya air dan listrik. Pada Oktober 2014, tunggakannya sempat diputihkan oleh Pemprov DKI. Karena itu, ia mulai membayar lagi pada Januari 2015.

Namun, kata Susi, ketika hendak mulai membayar sewa, ternyata terjadi perubahan sistem pembayaran dari tunai menjadi sistem debet. Pada saat ia urung membayar sewa itulah uang yang disiapkan untuk membayar sewa rusun akhirnya terpakai menutup kebutuhan lain. Sejak itu pula tunggakan Susi terus menumpuk.

"Saya bukannya enggak mau bayar, tapi memang kondisi ekonomi saya enggak mampu. Mau gimana lagi," tuturnya.

Ketua RW 10 Rusun Marunda, Nasrulah Dompas, 51, membenarkan banyak warganya yang menunggak sewa rusun. Sebab, rata-rata penghuni Rusun Marunda bekerja di sektor informal seperti pedagang, pengemudi ojek online, buruh, hingga pekerja serabutan.(J-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya