Anak-anak Menikmati Alam dari Pulau Buatan

17/10/2016 09:30
Anak-anak Menikmati Alam dari Pulau Buatan
(MI/SUSANTO)

PANTAI Karnaval Ancol, Jakarta Utara, dipenuhi lautan manusia. Sekitar

50 ribu pengunjung tumpah ruah untuk menyaksikan dari dekat konser
tunggal penyanyi kawakan Iwan Fals, Sabtu (3/9) malam itu.

Tanpa dikomando, secara serentak mereka menyanyikan bait demi bait lagu
Bongkar mengikuti sang idola. Malam itu, luapan kegembiraan menyelimuti
kawasan rekreasi Ancol.

Pantai Karnaval kini menjadi salah satu lokasi favorit bagi para grup
band ternama menggelar konser secara besar-besaran. Selain Iwan Fals,
grup band Slank dan penyanyi-penyanyi papan atas telah manggung di sana.

Tidak banyak yang tahu, Pantai Karnaval adalah daratan buatan atau hasil
reklamasi. Sebelum dibangun, Pantai Karnaval ialah bagian perairan di
kawasan pantai Ancol. Proses reklamasi menciptakan Pantai Karnaval yang
didesain menempel ke pantai sehingga terbentuk daratan dan pantai baru.

Tidak hanya mereklamasi pantai, pengelola taman rekreasi itu, PT
Pembangunan Jaya Ancol, juga telah mengantongi izin untuk membangun dua
pulau buatan yakni Pulau J dan K.

Namun, saat dimintai keterangan terkait reklamasi, direksi PT
Pembangunan Jaya Ancol melalui stafnya memilih untuk tidak berkomentar.

“Saya sudah sampaikan kepada direksi dan untuk sementara direksi Ancol
tidak bisa memberikan penjelasan. Mohon dapat dimaklumi,”ujar staf PT
Pembangunan Jaya Ancol, pekan lalu.

Di lain hal, saat dimintai pendapat, sejumlah warga mengaku tidak
mempermasalahkan daratan buatan hasil reklamasi. Mereka menilai, selama
hasil reklamasi memberi manfaat kepada publik dan dapat dinikmati secara
luas oleh masyarakat, justru patut untuk didukung.

Seperti diutarakan Anton, 28, warga Tangerang Selatan, yang ketika itu
ikut menyaksikan konser Iwan Fals. Karyawan di sebuah perusahaan swasta
itu mengatakan warga Jakarta membutuhkan tempat yang lebih banyak untuk
berekreasi seperti Pantai Karnaval. “Seharusnya ditambah. Hal yang
terpenting masyarakat bisa menikmatinya,” kata Anton.

Hal senada diungkapkan Ujang, warga Pademangan Barat, Jakarta Utara,
yang berprofesi sebagai pedagang minuman ringan keliling di sekitar
Ancol. Dia sangat berharap area rekreasi Ancol diperluas.

Pasalnya, perluasan lahan Ancol akan diikuti penambahan wahana baru dan
akan menambah jumlah pengunjung yang datang berekreasi. “Kalau ada
konser musik di Pantai Karnaval, saya bisa bawa pulang uang ke rumah
sampai Rp700 ribu. Lumayan untuk mencukupi kebutuhan sekolah anak saya,"
tukas Ujang.

Manfaat perluasan daratan Ancol juga diutarakan Susanto, warga Cibubur,
Jakarta Timur. Saat ditemui Rabu (12/10) di kawasan Pantai Karnaval,
ayah dua orang puteri itu sedang mengawasi anak-anaknya bermain pasir di
pantai.

Bagi Susanto, tempat bermain untuk anak-anak tidak melulu di mal-mal
saja. Dia lebih memilih membawa kedua puterinya ke alam terbuka seperti
pantai dan taman. “Saya kira pantai buatan seperti Pantai Karnaval ini
sangat bermanfaat untuk para orang tua memperkenalkan alam kepada
anak-anak,” tukasnya.

Lembaga Pemerhati Pembangunan (LPP) Kristianto Nugroho menilai Jakarta
perlu melakukan pembenahan dalam menata konsep pembangunan ke depan.
Kondisi Jakarta yang semakin minim lahan ditambah populasi penduduk yang
terus mengalami peningkatan, membuat ruang gerak pembangunan semakin
terbatas.

"Sebagai Ibu Kota negara, tingkat kepadatan penduduk yang mendiami kota
Jakarta terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Sudah
sepantasnya konsep pembangunan mulai memikirkan rekayasa ruang untuk
menyiasati lahan yang terbatas," tutur Kristianto, Selasa, (11/10) di
Jakarta.

Ia meminta Jakarta belajar pada negara yang telah berhasil merekaya
ruang dalam menyiasati keterbatasan lahan. Seperti Dubai, Singapura,
Korea Selatan, Jepang, Belanda, dan berbagai negara lainnya, yang
memanfaatkan pesisir pantai dengan membuat pulau buatan.

"Coba bayangkan, jika Jakarta memiliki pulau buatan di kawasan teluk
Jakarta. Berapa luasan daratan baru yang dapat dihasilkan, berapa banyak
tenga kerja yang mampu diserap, dan beberbagai pontensi ekonomi dapat
lahir untuk meningkatkan pendaptan masyarakat. Jakarta juga memiki ikon
baru yang dapat menjadi kebanggaan kita semua," kata Kristianto.

Baginya, tidak ada salahnya jika rekayasa ruang dilakukan dalam
pembangunan demi kemajuan daerah yang diharapkan dapat melahirkan dampak
positif bagi semua. "Toh negara lain dapat melakukannya, kenapa kita
tidak? Kan terbukti negara mereka dapat menikmati hasilnya dari
pembangunan rekayasa ruang yang mereka lakukan," tutup Kristianto.

Jika pembangunan Ibu Kota belajar dari negara yang sudah berhasil
melakukan reklamasi, tentu Jakarta akan mengalami modrenisasi konsep
pembangunan sekaligus dapat menata kawasan yang selama ini kurang
mendapat perhatian.

"Selain dapat menjawab kebutuhan pembangunan, negara-negara tersebut
juga semakin terkenal dengan ikon baru yang dimiliki. Jakarta dapat
melakukan hal yang sama sekaligus menata kawasan pantai utara dengan
pencemaran tinggi seperti saat ini," lanjutnya.

Kristianto yakin banyak manfaat yang dapat diperoleh jika Jakarta
berbenah seperti itu, selain dapat menata kawasan yang sudah lama tidak
terurus, pulau-pulau buatan itu nantinya melahirkan multiplier
effect yang sangat positif bagi daerah dan masyarakatnya sendiri.
(Mhk/Sru/T-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya