Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
NANI Handini, 59, mengernyitkan dahi saat ditanya asal muasal kampung tempat tinggalnya di kawasan RW 001, Kedaung Angke, Kelurahan Kapuk, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat. Ia memilih mengumpatkan kekesalannya terhadap pemerintah.
Kesal karena janji manis pemerintah mengubah wajah tempat tinggalnya yang diberi label Kampung Apung tak kunjung dilakukan. Padahal, selama tiga dekade ia harus tinggal 'mengapung' bersama 200 keluarga lain.
"Calon gubernur maupun calon anggota DPR, janji mau ini-itu untuk membuat kami lebih layak. Itu cuma janji-janji," katanya, saat mulai bercerita
Perempuan itu hingga kini terus berharap Kampung Apung bisa seperti dahulu, sebelum terendam. Ketika itu, ia dan warga lainnya bisa hidup nyaman di kampung seluas 3 ha dengan permukiman dipenuhi pohon rindang. "Bukan seperti ini, tinggal di atas air kotor yang enggak kering-kering."
Sebelum diberi julukan Kampung Apung, kawasan tersebut bernama Kampung Teko dan merupakan dataran tinggi. Saat hujan pun, kampung itu tidak pernah terkena banjir. Justru warga dari luar Kampung Teko yang terkena banjir memilih mengungsi ke kampung tersebut.
"Warga di luar Kampung Apung kemudian menjual rumah mereka yang oleh pembelinya dibangun pabrik," tuturnya.
Pabrik-pabrik tersebut, kata Nani, dibangun lebih tinggi dengan cara diuruk. Dampaknya air limbah pabrik mengalir ke Kampung Apung. Lebih parah lagi, saat hujan, banjir tak terelakan lantaran air dari Kampung Apung tidak bisa mengalir ke saluran yang tertimbun areal pabrik.
Untuk mengatasi banjir, warga meninggikan rumah dengan tiang penyangga, seperti halnya rumah panggung. Di bawahnya, air setinggi 1-1,5 meter mengepung.
Dari waktu ke waktu genangan air semakin pekat dan dipenuhi tumpukan sampah. Bahkan, 3.810 makam di tempat pemakaman umum (TPU) setempat tenggelam. Tidak ada lagi batu nisan yang terlihat. Sejauh mata memandang hanya hamparan eceng gondok.
"Dua tahun lalu sempat ada pengeringan. Tapi enggak sampai bertahan dua bulan, pengeringan berhenti, terus kampung kerendem lagi," ujar Nani.
Tidak adanya kepastian dari pemerintah untuk memperbaiki nasib warga Kampung Apung membuat mereka memilih bertahan. Sebagian warga kini justru memanfaatkan kubangan air yang mengepung permukiman untuk budi daya ikan lele.(Mal/J-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved