RIBUAN orang dari berbagai elemen, kemarin, memadati kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI) hingga Medan Merdeka, Jakarta Pusat. Mereka resah dengan pelemahan ekonomi Indonesia belakangan ini. Pemerintah dinilai tidak berupaya maksimal memperkuat ekonomi nasional. Sejak pukul 09.30 WIB, panji-panji elemen serikat buruh dan organisasi massa mulai terlihat di Bundaran HI. Namun, pedagang kaki lima (PKL) sudah sejak subuh bergerak ke kawasan tersebut. Naluri mereka mengatakan saat ada kerumunan orang, pasti di situ ada rezeki yang bisa diraih.
Salah satu pedagang yang pagi itu sibuk berseliweran di antara kerumunan buruh ialah Cecep, 41. Pedagang handuk dan syal itu tidak bosan-bosannya menawarkan barang dagangan ke para pedemo. Pola berdagang dilakukan secara mobile. Pria tersebut mulai menawarkan handuk-handuk yang ditumpuk pada bahunya saat massa pedemo berdatangan secara bertahap dengan kendaraan bus.
Meski matahari cukup terik, senyum Cecep terus berkembang. Tidak begitu terlihat rasa letih selama ia menyusuri Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Perjuangannya memang bukan tanpa hasil. Sebagian pedemo satu per satu membeli barang dagangannya. Cucuran keringat pedemo menjadi berkah bagi Cecep. Selain berfungsi menyeka keringat, handuk ataupun syal dapat melindungi dari sengat matahari langsung ke kepala ataupun wajah. "Kebetulan cuaca sudah lama belakangan panas. Jadi dari awal yakin saja, pasti banyak yang butuh handuk. Ternyata memang benar," ucap Cecep.
Cecep ialah salah satu dari beberapa pedagang handuk yang kesehariannya berjualan sekitar Pasar Tanah Abang. Pada kesempatan kali ini, ia dan rekannya sengaja menjemput bola ke arena demonstrasi massa buruh. Harapan awal terbesarnya, barang yang ditawarkan lebih cepat ludes terjual. Tiap handuk ukuran kecil dibanderol Rp5.000. Dalam tempo kurang dari 3 jam, sedikitnya 400 lembar handuk dijualnya. Jumlah itu tiga kali ia dapat ketimbang hari biasa jika harus menyusuri sekitar Pasar Blok A, Blok G, hingga Pasar Tasik Tanah Abang.
"Harganya tidak saya naikkan. Cuma sekarang untungnya bisa jual banyak saja. Hari biasa paling cuma jual 150 atau paling bagus 200 handuk. Itu juga sampai sore. Kalau syal enggak begitu laku, harganya lebih mahal, satunya Rp10 ribu," jelasnya. Warga Parung, Bogor, itu selalu berharap kawasan Bundaran HI, Patung Kuda Monas, dan Istana Negara kerap diserbu pedemo. Harapan sama juga disampaikan Rohman, 48. Salah satu pedagang makanan gorengan di Jalan Medan Merdeka Utara mengaku sudah menata gerobaknya di lokasi sejak pukul 06.00. Pedemo selalu jajan. "Jualan pas demo maka bahan (pembuat gorengan) harus lebih banyak. Ini juga sambil menggoreng, soalnya takut kurang. Kami juga tidak menaikkan harga, takut malah tidak laku," ujarnya. Senyum PKL makin mengembang. Selain dagangan cepat laris, mereka bisa bebas berdagang di area terlarang.