Jangan sampai Berkah Menjadi Musibah (4)

Bhm/T-1
01/9/2015 00:00
Jangan sampai Berkah Menjadi Musibah (4)
(AFP/MARTIN BUREAU)
TIGA tahun lagi dari sekarang Asian Games akan digelar di Indonesia, itu artinya jutaan pasang mata akan tertuju ke Bumi Pertiwi. Tentu agar tetap elok, bangsa ini harus berbenah khususnya yang berkaitan dengan fasilitas olahraga sebagai pusat perhatian, selain mempersiapkan jawara-jawara olahraga agar tetap tangguh merebut juara. Itu semua sudah pasti menjadi agenda prioritas yang terus digodok.

Namun disoal lain, terendus pula upaya ‘menggoreng’ event Asian Games menjadi santapan berbagi rezeki. Betapa tidak, event yang akan di ikuti 45 negara Asia dengan puluhan ribu official itu merupakan peluang empuk untuk ‘berbisnis’ mulai dari sovenier, jasa, transportasi, hingga hotel. Pantas kalau yang semula disepakati saat Asian Games di Inchoen, Korea Selatan, sebagai sahibul bait DKI Jakarta dan Sumatra Selatan (Sumsel) kini muncul provinsi lain yang ingin nimbrung.
Terlepas dari persoalan tersebut, salah seorang penandatangan MOU pada general assembly (majelis umum) OCA saat pembukaan Asian Games di Inchoen, Gubernur Sumsel Alex Noerdin bercerita kepada Media Indonesia, latar belakang dipilihnya Indonesia menjadi tuan rumah serta kesiapan Sumsel menggelar Asian Games 2018.
 
Bisa Anda ceritakan latar belakang ditunjuknya Sumsel menjadi tuan rumah Asian Games 2018?

Sebenarnya setelah SEA Games XVI 2011, Ibu Rita (Ketua KOI Rita Subowo) mengatakan, Pak Alex siap-siap Sumsel menjadi tuan rumah Asian Games, kemudian kami kirim surat ke President of Olimpic Council of Asia (OCA) Syeikh Ahmad Al Fahad Alsabah di Kuwait dengan memberikan informasi bahwa kami punya JSC, fasilitas lainnya serta berbagai pengalaman sebagai tuan rumah event olahraga internasional. Rupanya surat kami direspon sangat positif dan diminta untuk mempersiapkan semuanya agar dapat ikut dalam bidding (penawaran) untuk menentukan tuan rumah Asian Games. Tetapi sayang ketika itu pemerintah pusat tidak mengajukan Jakabaring melainkan mengajukan Jawa Timur yang belum punya apa-apa, akhirnya posisi Indonesia kalah dalam proses bidding tersebut lawan Hanoi, Vietnam. Hanoi waktu itu baru mau sejumlah fasilitas olahraga, tetapi negara itu di back up China yang siap membangun semuanya dalam waktu singkat. Setelah satu tahun lebih rupanya China dan Vietnam terlibat sengketa berebut pulau.  China marah lalu menarik dukungan kepada Vietnam sebagai tuan rumah Asian Games, akhirnya Vietnam mengundurkan diri, lalu ditunjuklah Indonesia dengan pemungutan suara. Kemudian Ibu Rita melakukan lobi dan Indonesia juga didukung seluruh negara Asia Tenggara sebab SEA Games sukses di Palembang, selain itu Indonesia juga didukung negara-negara Islam di Asia karena Islamic Solodarity Games juga sukses digelar di Sumsel, maka Indonesia dipilih sebagai tuan rumah Asian Games 2018.
 
Berarti Sumsel punya konstribusi besar dong?

Ya, kontribusi Sumsel untuk memenangkan Asian Games itu lebih besar daripada daerah lain, ini fakta ya dan berkah bagi kita. Sebagai ilustrasi, pada tahun 1962 Bung Karno menghadapi dua pilihan yakni beli beras atau menjadi tuan rumah Asian Games. Ternyata Bung Karno pilih menjadi tuan rumah Asian Games, dari situ dibangunlah stadion olahraga di senayan, hotel Indonesia, berbagai fasilitas olahraga lainnya, jembatan semanggi serta Jakarta by pass ke arah Tanjung Priok. Pilihan Bung Karno tepat, dalam waktu singkat Jakarta yang dulu disebut kampung besar berubah menjadi kota metropolitan. Setelah 56 tahun Asian Games yang pertama itu, kini kembali di gelar di Indonesia tetapi bukan hanya di Jakarta melainkan pula di Sumsel. Di dalam general assembly (majelis umum) OCA saat pembukaan Asian Games di Inchoen, telah ditandatangani kontrak MOU antara OCA (President of OCA Syeikh Ahmad Al Fahad Alsabah), KOI (Rita Subowo) dan dua gubernur (Gubernur DKI Basuki Cahya Purnama dan Gubernur Sumsel Alex Noerdin), jadi resminya hanya dua provinsi. Saya tegaskan hanya dua kota (Jakarta dan Palembang). Sedangkan adanya tambahan kota lain itu diluar kontrak dengan OCA.
 
Menurut Anda kenapa muncul dua provinsi lain (Jawa Barat dan Banten)?

Tidak masuk akal, ya kan (suara Alex ditekan untuk meyakinkan). Misalnya, kenapa harus jauh-jauh ke daerah itu. Setahu saya, atlet itu tidak boleh tinggal di hotel tetapi harus menginap di atlet village berkumpul jadi satu, itu berdasarkan peraturan olahraga event internasional. Atlet harus kumpul di atlet village gunanya agar mereka semua saling mengenal, sedangkan kalau dibagi ke beberapa tempat maka atlet tidak berbaur seluruhnya. Misalnya atlet basket di Bandung maka mereka cuma berbaur sesama atlet basket dan tidak akan kenal dengan atlet lainnya. Menurut saya kalau dua provinsi atau kota masih masuk akal, sebab bisa dibagi dua saja.
 
Ada kepentingan lain di balik itu?

Waduh saya tidak mau komentar soal itu. Kalau kami di Sumsel hanya untuk kepentingan olahraga. Lihat saja JSC tetap konsisten hingga sekarang tetap untuk olahraga. Kita punya 11 tower atlet village terdiri dari delapan yang baru dan tiga blok yang lama yang sanggup menampung 7000 atlet.  Kalau selesai tempat itu akan dipakai untuk pelatnas agar atlet dapat tinggal di wisma atlet dan berlatih di venue-venue setaraf internasional yang hanya ditempuh dengan berjalan kaki saja. Atlet tidak perlu khawatir, yang mahasiswa bisa kuliah di kampus-kampus di Palembang, yang berkerja juga bisa serta kita juga punya sekolah olahraga. Kemudian sebagai hadiah karena Sumsel sukses menggelar SEA Games 2011 maka Presiden SBY ketika itu menyetujui dibangun sekolah tinggi olahraga Indonesia, mahasiswanya bukan cuma dari Indonesia tetapi bisa pula dari luar.
 
Sumsel betul-betul sudah siap?

Di wisma atlet JSC mampu menampung 2570 atlet di tiga blok bangunan dengan fasilitas kamar mandi dengan air panas dan dingin atau setara dengan hotel bintang tiga, selain itu ada dinning hal yang sanggup menampung 1500 atlet sekaligus untuk makan bersama menggunakan kursi. Di dekat wisma atlet sedang dibangun tiga tower rusunawa lima lantai bantuan Kementerian Pekerjaan Umum. Kalau itu sudah selesai Desember tahun ini akan kita cari dana pihak ketiga dan kita pasang lift, tambah daya listrik dan air panas-dingin maka jadilah apartemen. Januari tahun depan dibangun lagi rusunawa lima tower dengan target selesai Desember 2016, itu jauh sebelum Asian Games. Nantinya wisma atlet dan rusunawa itu dapat menampung 7000 atlet, jadi 80 % cabang olahraga (cabor) Asian Games sanggup ditampung di JSC sekaligus.

Selain itu JSC itu terintegrasi di satu wilayah, untuk menuju venue olahraga dari wisma tempat menginap para atlet dapat berjalan kaki paling lama enam menit. Umpamanya, dari wisma atlet ke lapangan tenis cukup satu menit, venue atletik dua menit, ke aquatik cukup lima menit, paling jauh ke venue panahan dan venue menembak yeng memerlukan waktu enam menit.

Di JSC ada danau 40 hektare merupakan salah satu yang terbaik untuk water ski  (ski air) dan rowing boat (perahu dayung) dan di tempat itu sudah dua kali digelar kejuaraan dunia yang sekarang sedang diperpanjang 1000 meter lagi. Rasanya tidak ada rowing  yang letaknya di tengah kota. Lihat saja di Incheon, Korea Selatan untuk menuju danau rowing boat harus naik bus selama dua jam, di Jakarta ke Cipule atau ke Jatiluhur Jawa Barat semuanya terlalu jauh, bandingkan dengan danau di JSC yang ada di tengah kota semua venue berstandar internasional. Ada pula venue aquatik merupakan salah satu yang terbaik di Asia dengan lantai kolamnya terbuat dari stenlesstel, bulk head-nya otomatis bisa diatur panjang dan pendek, sound system dan lighting dari philip serta pengatur waktu swiss omega, venue aquatik itu dibangun selama sembilan bulan. Ingat kawasan JSC itu sudah ada, bukan baru akan dibangun.
Meski demikian masih belum cukup untuk Asian Games 2018 dengan 45 negara yang terdiri dari macan-macan dunia, ada China, Jepang, Korea dan lainnya, maka itu kita harus mempersiapkan infrastruktur, termasuk penambahan kapasitas airport, jalan tol, termasuk rumah sakit baru yang bertaraf internasional, dua jembatan musi,  LRT (light rapid transit) dari bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II hingga ke Jakabaring. Semua itu perintah presiden harus selesai sebelum Asian Games 2018. Kalau itu tidak selesai presiden akan malu.
 
Apa ada persiapan khusus menghadapi Asian Games?

Tidak ada. Sekarang strategis pengembangan wilayah sebuah negara memanfaatkan event olahraga internasional dengan tidak dilaksanakan di ibukota negara melainkan digelar di kota lain supaya daerah itu ikut berkembang agar setara dengan ibukota negara. Contoh bahwa Asian Games tidak di ibukota negara, Incheon, Korea Selatan tahun lalu, sebelumnya juga di Busan, Korea  Selatan, kemudian di Guangzhou, China, Hirosima, Jepang. Sedangkan Indonesia sebagain elite seakan memaksa Asian Games 2018 di Jakarta. Padahal di jakarta saja belum ada wisma atlet, katakanlah ada baru mau bangun di kemayoran tapi lahan masih bermasalah, kemudian mau bangun stadion di Jakarta Utara juga lahan bermasalah. Kata kanlah masalahnya selesai dan mereka bangun itu semua, tetapi ada masalah lain yakni bagaimana mengangkut atlet dari kemayoran ke Jakarta Utara, saya rasa tidak akan selesai dalam waktu dua tahun. (Bhm/T-1)


Keppres Nomor 12 Tahun 2015

Baca juga Berkat Lobi Sang Gubernur



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya