Berkat Lobi Sang Gubernur (1)

Ard/Mhk/T-1
01/9/2015 00:00
Berkat Lobi Sang Gubernur (1)
(AFP/MARTIN BUREAU)
Kata Pengantar:
Asian Games XVIII akan diikuti 45 negara. Hal ini tentu sangat menggiurkan untuk parawisata. Daerah yang semula tidak terlibat tiba-tiba masuk menjadi tuan rumah.

Ikuti penelusuran tim investigasi Media Indonesia seputar perebutan tuan rumah Asian Games ini. Laporan disajikan dalam empat tulisan terpisah.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

GUBERNUR Banten Rano Karno tampak antusias saat bertemu Ketua Komite Olahraga Indonesia (KOI) Rita Subowo di sela-sela  peresmian salah satu kegiatan olahraga di Jakarta akhir 2014 silam.  Tidak pernah mengira akan diikutkan pada acara launching itu, Gubernur yang akrab disapa Bang Doel itu tak  membuang kesempatan melobi sahabat dekatnya, Rita Subowo, untuk mendapat jatah tuan rumah Asian Games 2018 mendatang.
 
"Buk Banten siap loh, kalau dijadikan tempat untuk Asian Games, terutama untuk olahraga pantai," begitu ucap Rano membujuk Rita.
 
Bak gayung bersambut, Rita menanggapi positif rencana itu. Kesiapan Banten untuk menjadi tuan rumah terbilang mumpuni secara geografis dengan adanya garis pantai sepanjang 517 km yang memiliki potensi ombak dan angin untuk mendukung kegiatan olahraga pantai.
 
Apalagi, Banten pun sedang mengejar pembangunan Tanjung Lesung sebagai salah satu objek wisata sekaligus arena olahraga air untuk even-even  internasional. Dukungan pembangun Tanjung Lesung ditopang pula oleh rencana pembangunan tol yang menghubungkan Serang Timur dan Panimbang pada 2016.

"Kita tahu, Palembang dan Jabar kan tidak ada pantainya, sementara Jakarta khususnya Ancol sudah terlalu crowded. Karena itu, Tanjung Lesung akan kita siapkan untuk menopang padatnya populasi kegiatan di Jakarta, bahkan saat ini sudah ada yang mulai dibangun. Jadi saya tegaskan, kalau untuk cabang olahraga spesifik pantai kita siap."
 
Meski mengakui  tidak pernah ada lobi-lobi khusus, kedekatan antara dirinya dan Ketua KOI agaknya memuluskan rencana Banten memperoleh jatah tuan rumah pada Asian Games 2018. "Saya secara pribadi juga kenal dengan beliau. Beliau anak seorang aktor, Rendra Karno. Secara pribadi saya kenal, kebetulan ketika launching itu, saya katakan untuk olahraga pantai kita siap, ada Anyer dan Carita. Nanti bisa kita carikan yang sesuai."

Komite Olahraga Indonesia (KOI) merilis pembagian venue untuk empat kota tuan rumah berdasarkan hasil rapat 15 Juni 2015. Jumlah olahraga yang dipertandingkan sebanyak 37 dengan rincian 29 cabang olahraga (cabor) olimpiade dan sisanya cabor regional maupun rekomendasi OCA.

Keseluruhan cabor itu akan dibagi ke dalam empat propinsi, DKI, Palembang, Jabar dan Banten. Kendati lobi Karno untuk memasukkan venue cabang olahraga pantai di Banten tidak berjalan mulus, setidaknya 11 cabang olahraga akan dilaksanakan di Indonesia Convention Exhibition (ICE) Bumi Serpong Damai (BSD), Tangerang Selatan, Banten. Jumlah cabang olahraga tersebut sama banyaknya dengan cabor yang dipertandingkan di Palembang, sebagai tuan rumah awal yang disepakati pada Asian Games Incheon 2014.

Perhelatan akbar sebesar Asian Games harus didukung berbagai sektor. Terutama, sumber daya manusia dan fasilitas venue bersandar internasional. Saat ini, Provinsi Banten belum siap secara infrastruktur, bahkan menurut Rano, Provinsi Banten tidak memiliki stadion besar yang layak untuk menyelenggarakan even internasional.

"Namun ini kesempatan yang harus diambil. Bisa dibayangkan berapa banyak negara yang hadir, tentu akan mendukung promosi pariwisata yang sedang giat-giatnya dilakukan. Jadi sangat bergengsi. Sementara untuk tempatnya, tergantung panitia. Stadion kan bisa dibikin. Sementara pembangunan venue tidak terlalu rumit."

"Untuk mendanai pembangunan itu, pemerintah semestinya menyuntikkan dana ke kota-kota penyelenggara untuk memenuhi kebutuhan anggaran yang diperkirakan mencapai Rp6 triliun "Saat ini saja, APBD Banten cuma berkisar Rp7T, jadi kalau daerah menyiapkan dana sebesar itu tidak mungkin."

Menurut Deputi IV Bidang Peningkatan Prestasi dan Olahraga Djoko Pekik Irianto, sesuai instruksi OCA (Olympic Council of Asia) tidak akan ada pembangunan venue baru, yang artinya olahraga pantai tidak akan dilaksanakan di Banten. "Pembangunan cuma venue aquatic dan balap sepeda (velodrom) . Yang lain sifatnya rehabilitasi. Untuk anggaran  pembangunan aquatic akan diserahkan kepada pemrov DKI, jadi lebih tepat ditanyakan ke DKI. Prinsipnya, tahun ini akan segera dibangun. Kendalanya, Aset-aset kolam renang merupakan aset setneg. Jadi akan ditinjau, apakah dibenarkan secara yuridis, agar tidak ada masalah dikemudian‎ hari."

Apalagi, penetapan Banten sebagai tuan rumah belum tahap final, masih pemetaan mengingat Banten belum siap secara infrastruktur. Penetapan kota peyelenggara masih bisa berubah sewaktu-waktu. Untuk kota penyelenggara yang disepakati saat kontrak di Asian Games Incheon 2014, yaitu DKI dan Palembang, sementara Jabar dan Banten sifatnya hanya sebagai kota pendukung (supporting cities)

"Tuan rumah sebetulnya tetap DKI dan Sumsel, cuma ada beberapa lokasi yang melibatkan dua provinsi. Untuk Jabar akan fokus pada cabor bersepeda dan Banten masih kita petakan (KOI). Banten tidak serta merta untuk venue, mungkin hanya untuk bandara. Jadi intinya cuma DKI-Sumsel," ungkap Djoko kepada Media Indonesia Rabu (26/8), pekan lalu.(Ard/Mhk/T-1)

Keppres Nomor 12 Tahun 2015

Baca juga Jurus Bantahan Rita



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya