Bantu Mereka Hidup Lebih Baik

MI/GINA SARA MELATI
01/9/2015 00:00
Bantu Mereka Hidup Lebih Baik
(MI/ANGGA YUNIAR)
SABTU pagi selalu menjadi waktu yang dinantikan sekitar 137 anak jalanan yang tersebar di Tangerang. Langkah mereka bermuara pada satu tempat, pondok sederhana berlantai bambu di Jalan Tanah Gocap, Tangerang. Di tempat bernama Komunitas Anak Langit atau yang biasa disebut Klangit itu, mereka bebas berekspresi menjadi diri sendiri. Ada yang menari, bermain alat musik, mendaur ulang barang bekas menjadi karya seni, atau berolahraga.

Berbeda dengan belajar di sekolah, tak ada sekat antara anak-anak jalanan di sana dan para mentor yang mengajari mereka. Semua yang hadir berinteraksi layaknya keluarga. Glenn, salah seorang mentor di komunitas tersebut, menuturkan setiap pengunjung yang datang hanya 3 menit pertama hadir sebagai tamu. Tiga menit berikutnya mereka menjadi saudara dan dianggap keluarga. Para mentor menerima setiap anak jalanan yang datang dengan tangan terbuka.
"Menjadi keluarga di Klangit ada tiga langkah, yaitu lihat, dengar, dan rasakan," ujarnya kepada Media Indonesia, beberapa waktu lalu.

Ketua pengurus Klangit MH Thamrin menuturkan komunitas yang didirikan para anak muda itu didasari panggilan jiwa untuk memperbaiki anak-anak yang berada di jalanan. "Ada empat pilar yang dipegang Klangit, yaitu hadir, tumbuh, berkembang, dan bermanfaat," kata Thamrin.

Komunitas itu mengumpulkan anak-anak jalanan dan mengajak mereka untuk belajar dan berkreasi bersama.

"Awalnya kami mendatangi anak-anak (jalanan). Mengamen bareng. Kalau sudah dekat, kami bilang ke mereka kami ada tempat, mau enggak datang untuk belajar," tutur Glenn.

Di tempat itu, anak-anak diajari cara memelihara kebersamaan dan saling menjaga dari hal yang sederhana. Misalnya untuk makan, anak-anak belajar untuk berbagi tugas memasak makanan untuk dimakan bersama. Kebersamaan juga tergambar pada kegiatan salat berjemaah. Selepas salat, anak-anak berkumpul dan berbagi cerita mengenai kejadian sederhana yang memberi pesan moral, yang terjadi di sekitar mereka.

"Karena belajar itu tidak hanya di sekolah. Apa saja bisa menjadi guru. Semesta dunia ini gurunya," kata Thamrin.

Elisa, 15, ialah salah satu anak jalanan yang memutuskan bergabung di Klangit. Ia mengikuti olahraga bela diri wushu di sana. "Aku belajar wushu di sini, tapi olahraga bela diri lain juga belajar sedikit-sedikit. Aku minta diajari semuanya sama kakak-kakak di sini," tuturnya.

Sementara itu, Ato, 12, memilih belajar menjadi beatboxer (pemusik mulut). Walaupun baru belajar dua minggu, Ato kini sudah bisa menghibur teman-temannya.

Izin orangtua
Kesulitan terbesar bagi para mentor ialah mendapatkan izin para orangtua anak-anak tersebut. Kebanyakan anak-anak itu terbiasa membantu mereka mencari uang dengan berbagai cara. "Tugas kakak-kakak di Klangit meyakinkan orangtua (anak-anak jalanan) bahwa pendidikan itu penting," kata Iman, mentor lainnya.

Tak jarang, para mentor melakukan pendekatan kekeluargaan dengan berkunjung ke rumah anak-anak itu. "Saya tekankan ke anak-anak untuk selalu menjadi yang lebih baik, sebelum kalian menjadi yang terbaik," ujarnya.

Kehidupan keras di jalanan dikhawatirkan membentuk anak-anak jalanan menjadi pribadi yang keras. Ia juga mengaku sering melakukan pendekatan personal dengan anak-anak yang sedang mengalami permasalahan dan memberi masukan untuk penyelesaian. "Mereka tidak harus menjadi orang yang besar di luar. Paling tidak mereka bisa menjaga diri mereka sendiri," kata Imam.

Thamrin menambahkan, di tengah keterbatasan, para mentor selalu menanamkan prinsip agar anak-anak belajar peduli dan berbagi kepada sesama, sebab permasalahan yang banyak terjadi sering kali disebabkan keengganan individu untuk peduli dan berbagi. (J-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya