KONDISI rumah susun sederhana sewa (rusunawa) Bekasi Jaya, Jl Underpass, Bekasi Jaya, Bekasi Timur, Kota Bekasi, sangat memprihatinkan.
Sejak pertama diresmikan pada 2006, tempat tersebut belum pernah diperbaiki.
Yudi Pramono, 32, penghuni Blok A10 mengaku, unit rusunnya telah bocor sejak ia menempatinya pada 2014 lalu.
Namun, saat itu kondisi bocornya belum terlalu parah, baru sebatas tetesan air.
Kondisi tersebut diantisipasi dengan menampung tetesan air itu pakai ember.
Akan tetapi, hal tersebut membuatnya tidak nyaman.
"Saya sudah sering lapor ke pengelola rusunawa, mereka janji akan memperbaikinya. Tapi, sampai sekarang tidak diperbaiki," ujar Yudi saat ditemui di unit rusunnya, beberapa waktu lalu.
Lantaran tidak ada penanganan dari petugas setempat, Yudi lalu memutuskan untuk memasang talang air dari pipa dan selang air dengan biaya Rp60.000.
Menggunakan alat tersebut, lalu air kotoran itu dibuang ke tempat cucian piring miliknya.
"Kalau tidak dipasang talang air, bakalan menetes terus," kata Yudi.
Padahal keberadaan rusun ini sangat berarti bagi masyarakat Bekasi yang berpenghasilan rendah.
"Pekerjaan saya cuma buruh serabutan, kalau pindah ke tempat lain, saya bingung bayarnya dari mana. Makanya saya tinggal di sini. Tapi, saya berharap pemerintah memperbaikinya," ucapnya.
Endang, 45, penghuni rusunawa lainnya pun mengaku tak pernah melihat adanya pemeliharaan rusun dari pemerintah.
Padahal, selain kondisinya banyak yang bocor, kamar mandi di dalam rusun pun banyak yang tidak berfungsi.
Oleh karena itu, banyak penghuni rusun yang menggunakan kamar mandi darurat untuk aktivitas mandi, cuci, dan kakus (MCK).
"Kita jadi pada nganti di kamar mandi darurat. Padahal, tiap kamar sudah ada kamar mandinya," ujar Endang.
Menurut dia, kondisi seperti ini sudah berlangsung lama.
Akan tetapi, tak ada satu pun tindakan dari pemerintah setempat untuk memperbaiki hal tersebut.
"Belum pernah ada perbaikan, bocor di dalam kamar saja tidak diperbaiki, apalagi saluran yang mampet," imbuhnya. Sudah ditinjau Sementara itu, Ketua Paguyuban Rusunawa Bekasi Jaya Firmansyah menambahkan Pemerintah Kota Bekasi telah dua kali menyambangi rusunawa tersebut.
Namun, janji-janji yang diungkapkan pemerintah untuk memperbaiki plafon di sana tidak pernah terealisasi.
Menurutnya, selama ini pihak UPTD Rusunawa Bekasi Jaya hanya mengecat, mengganti pintu, atau keran yang rusak.
Sementara itu, untuk perbaikan vital seperti plafon yang bocor, tidak pernah dilakukan.
Firmansyah menduga kebocoran ini berasal dari bobroknya instalasi pipa yang terpasang di dalam tembok rusunawa.
Pipa-pipa yang terpasang di kamar mandi itu berfungsi membuang air yang telah digunakan penghuni.
"Kalau unit yang berada tepat di atas kamar saya sedang dihuni banyak orang, jadi kamar saya pasti selalu bocor kalau mereka sedang mandi," ujarnya.
Berdasarkan pantauan, luas unit rusunawa ini hanya berukuran sekitar 21 meter persegi.
Sirkulasi udara di sana juga terasa pengap, karena minimnya jendela.
"Di sini panas dan tidak bisa dipasang AC. Sudah gitu hampir seluruh plafonnya bocor," ujar Firmansyah.
Sementara itu, jalan masuk ke rusun ini tampak berdebu karena menjadi akses kendaraan pengangkut material.
Pasalnya, di sisi utara Blok A tengah dibangun blok berikutnya. (J-1)