Mengerikan, Terjadi 18 Kecelakaan Setiap Hari

Akmal Fauzi
19/9/2016 09:30
Mengerikan, Terjadi 18 Kecelakaan Setiap Hari
(MI/Agus Mulyawan)

AHMAD Taufik melepas nyawa Sabtu (17/9) malam. Sepeda motor Mio yang dikendarainya di Jalan Ciledug malam itu diseruduk bus Mayasari Bakti AC jurusan Kampung Rambutan-Ciledug. Taufik tewas di tempat kejadian.

Ayah Taufik yang duduk di boncengan menderita luka-luka dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan, untuk mendapatkan perawatan intensif.

Seusai menabrak, pengemudi bus itu melarikan diri. Bus pun menjadi sasaran amuk masa yang marah melihat kejadian tersebut. Untungnya, petugas Kepolisian Sektor Pesanggrahan bergegas datang ke lokasi untuk meredam amuk massa.

Polisi saat ini masih memburu sopir bus Mayasari yang kabur. Kasus itu tengah dalam penanganan Unit Kecelakaan Lalu Lintas Polres Jakarta Selatan.

Kecelakaan yang dialami Taufik menjadi salah satu peristiwa kecelakaan yang banyak terjadi di Ibu Kota. Setiap harinya, tercatat 18 orang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas di jalanan Jakarta.

Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Syamsul Bahri mengatakan angka itu tergolong tinggi. Salah satu penyebabnya ialah abainya pengendara terhadap faktor keselamatan berlalu lintas.

Untuk mencegah angka kecelakaan, bahkan yang menimbulkan kematian terus bertambah, masyarakat harus segera mengambil peran aktif menanamkan budaya tertib berlalu lintas.

"Masyarakat harus mengambil peran dengan mengajarkan tertib lalu lintas sejak usia dini di lingkungan keluarga," kata Syamsul.

Syamsul menyebut penyebab kecelakaan beragam. Namun, rata-rata faktor yang memicu kecelakaan sering terjadi ialah si pengendara tidak bisa mengontrol emosi saat mengemudi.

"Karena itu, diperlukan kedewasaan menjadi diri sendiri, tidak terpancing emosi, dan terus disiplin di jalanan," kata Syamsul mengingatkan.

Dalam kesempatan itu, Wakapolda Metro Jaya Brigjen Suntana mengatakan tingginya angka kecelakaan itu bisa menjadi cerminan tingkat kedisiplinan dan ketertiban masyarakat, khususnya ketika berkendara di jalan raya, masih belum baik.

"Salah satu penelitian menyebutkan, jika masyarakat tidak tertib di jalanan, itu kepribadian bangsa yang buruk," kata Suntana.

Suntana menyatakan diperlukan dukungan banyak pihak untuk bisa mengubah kondisi tersebut. Kalangan pendidik dan orangtua bisa menjadi benteng awal menanamkan kedisiplinan dalam berkendara. Menanamkan budaya tertib berlalu lintas, kata Suntana, juga harus dimulai dari diri sendiri.

"Pendidikan dini tidak akan mampu mengubah perilaku jika para orangtua sendiri masih memberikan contoh yang buruk," katanya.(MTVN/J-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya