Masa Sulit belum Berakhir

MI/GANA BUANA
24/8/2015 00:00
Masa Sulit belum Berakhir
()
KEKERINGAN yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Bekasi belum bisa diatasi. Bencana alam daerah tersebut masih membayangi sedikitnya enam kecamatan, yaitu Cibarusah, Cikarang Selatan, Cikarang Pusat, Cikarang Timur, Serang Baru, dan Cikarang Utara.

Namun, kekeringan paling parah dirasakan oleh warga Kecamatan Cibarusah. Ribuan hektare sawah, puluhan ribu keluarga, serta ratusan pengusaha batako terpaksa berhenti produksi akibat bencana keke-ringan ini.

Meskipun Pemerintah Kabupaten Bekasi mengklaim telah memberikan bantuan, tetapi bantuan tersebut dirasa belum merata ke sejumlah korban bencana kekeringan.

Diperkirakan ada 2.444 kepala keluarga (KK) menjadi korban kekeringan yang terjadi sejak akhir Mei lalu.

Enjum, 39, warga Desa Ridogalih RT 06/03, Cibarusah, mengatakan kekeringan yang melanda desanya membuat ia dan keluarga terpaksa menggunakan air Kali Cihoe untuk kebutuhan cuci dan kakus sehari-hari. Sebab, sumur buatan yang ada di belakang rumahnya sampai saat ini belum mengeluarkan air.

"Saya cuci baju atau cuci piring sementara memang pakai air Kali Cihoe," ungkap Enjum.

Menurut Enjum, pasokan bantuan air bersih yang diberikan pemerintah hanya memiliki jatah dua jeriken per keluarga. Satu jeriken diperkirakan berisi 10 liter air sehingga air tersebut hanya bisa digunakan untuk keperluan memasak atau mandi.

Sayangnya, bantuan air bersih dari pemerintah daerah, diberikan tidak setiap hari. Padahal, kehidupan Enjum dan dua orang anak perempuannya bergantung pada bantuan air tersebut.

"Ada bantuan air bersih dari pemerintah, tetapi hanya satu minggu sekali ke Desa Ridogalih, kadang kita mengandalkan pihak lain bagi-bagi air bersih," jelasnya.

Noneng, 35, warga Desa Sirnajati, RT 03/02, Cibarusah Kabupaten Bekasi, mengaku akibat kekeringan ia pun jarang mandi. Terhitung, dirinya hanya bisa mandi dua kali dalam satu minggu. Sebab, sumur air yang ada di belakang perkarangan rumahnya juga telah mengering.

"Sumur di belakang kedalamannya tujuh meter, tapi yang terisi air hanya 50 cm. Itu pun airnya juga asin, jadi kalau dipakai mandi, badan jadi keset," imbuhnya.

Untuk kebutuhan minum sehari-hari, Noneng mengaku membeli air isi ulang seharga Rp5.000 per galon. Hal itu dirasa amat memberatkan. "Makanya saya pilih jarang mandi, dari pada beli air isi ulang terus mahal," jelasnya.

Untuk kebutuhan cuci dan masak, Noneng mengaku masih bisa minta bantuan saudaranya yang memiliki rumah sejauh lima kilometer. Itu dia lakukan saat semua bantuan air bersih tidak ada yang datang.

Kirim air
Kepala Seksi Ketenteraman dan Ketertiban Kecamatan Cibarusah Iman Arachman mengatakan pemerintah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi telah mengirimkan pasokan air. Namun, pengiriman air tersebut tidak datang tiap hari.

Di Kecamatan Cibarusah, BPBD biasanya mengirimkan tiga truk tangki berkapasitas 4.500 liter hingga 5.000 liter. Karena itu, proses pendistribusian air bersih di Cibarusah dilakukan bergilir ke empat desa.

"Ada tiga truk tangki air yang bertugas mengirimi air, tetapi tidak tiap hari. Cibarusah kebagian dua sampai tiga kali dalam satu minggu untuk empat desa yang mengalami kekeringan," jelasnya.

Meski demikian, saat mobil pembawa air bersih datang ke Cibarusah, pihaknya akan memprioritaskan wilayah yang dianggap kekeringan paling parah, seperti Desa Ridogalih dan Ridomanah.

"Meskipun hanya satu minggu tiga kali atau bahkan tiga hari sekali mobil air bersih datang, kita akan memprioritaskan ke desa terjauh. Itu saja masih belum merata. Belum semua warga kebagian."

Pembagian air pada tiap keluarga telah dibatasi sebanyak dua jeriken atau setara dengan 20 liter air. Pembagian air biasanya dilakukan di depan kantor desa masing-masing.

"Jadi sistemnya warga antre di depan kantor desa masing-masing," tutupnya. (J-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya