Penertiban Kampung Pulo Rampung

MI/PATRICIA JEAN
23/8/2015 00:00
Penertiban Kampung Pulo Rampung
(MI/ANGGA YUNIAR)
PEMBONGKARAN Kampung Pulo ditargetkan rampung hari ini. Kemarin, pembongkaran rumah di bantaran Sungai Ciliwung sepanjang 1.800 meter telah selesai dilakukan.

Kapolda Metro Jaya Irjen Tito Karnavian yang meninjau lokasi, kemarin, mengatakan pembongkaran selesai Sabtu (23/8) dan Minggu (24/8) akan dilanjutkan pembersihan.

"Sampai pukul 15.00 WIB ini, penggusuran sudah sepanjang 1,6 km. Sisanya, 200 m lagi insyaallah akan selesai sore ini," kata Tito.

Pembongkaran rumah-rumah di bantaran kali itu menjadi bagian program pembebasan Jakarta dari banjir. Selain pembongkaran itu, pemerintah juga membuat terowongan air yang menghubungkan Sungai Ciliwung dengan Kanal Banjir Timur. "Diharapkan, pembangunan-pambangunan ini akan mengakhiri banjir tahunan di Ibu Kota," kata Tito.

Berdasarkan pemantauan kemarin, ada enam ekskavator darat dan dua ekskavator air yang meruntuhkan bangunan. Selain itu, ratusan anggota Satpol PP juga ikut membantu.

Sementara itu, Lurah Kampung Melayu Bambang Pangestu mengatakan penertiban di Kampung Pulo akan selesai lebih cepat dari target waktu tujuh hari yang disediakan. Penertiban permukiman di Kampung Pulo hari ini dilakukan dari dua sisi. Sisi pertama dari arah selatan dan sisi kedua dari arah utara. "Dua-duanya menyusuri Kali Ciliwung," kata Bambang.

Bukit Duri Tongtek

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengatakan, perumahan di bantaran kali di Bukit Duri Tongtek, Jakarta Selatan, akan menjadi target penggusuran selanjutnya.

"Kalau yang pas kena saluran kita eksekusi. Saya cuma minta 15 meter dari pinggir kali," kata Gubernur yang biasa disapa Ahok itu, Jumat (21/8).

Menurutnya, warga yang tergusur akan direlokasi ke rusun, seperti warga lainnya. Dia memastikan masih banyak slot rusun yang dapat menampung warga. "Banyak rusun kok. Pulo Gebang segala macam masih ada," ujarnya.

Menurut pantauan, Bukit Duri Tongtek terdiri atas perkampungan padat penduduk. Rumah mereka berdempetan dengan gang selebar 1 meter. Rumah yang ada di sana pun tak memiliki luas yang cukup besar. Lebarnya hanya sekitar 3 hingga 5 meter. Alhasil, kebanyakan bangunan dibuat berlantai dua.

Warga Bukit Duri Tongtek pun kaget mendengar rencana Ahok. Pasalnya, kata dia, belum ada surat resmi yang mereka terima. "Enggak ada kabar penggusuran, surat juga enggak ada. Entah itu surat peringatan atau apa belum pernah kami terima," kata Dedeh, 48 warga RT 05/12, Bukit Duri, Tebet, Jakarta Selatan.

Kendati demikian, dia sudah menduga kampungnya bakal kena gusur seusai Kampung Pulo, yang masih bertetangga dengan Bukit Duri, rata dengan tanah. "Saya sudah prediksi karena enggak mungkin cuma ngusir setengahnya," katanya.

Ketua RT 05 Jasandi pun menerangkan penggusuran memang bukan barang baru bagi warga-nya. Pasalnya, kata dia, wacana penggusuran sempat berhembus saat Presiden Joko Widodo masih menjadi Gubernur DKI pada 2013. "Program Pak Jokowi dulu memang ada penggusuran. Sudah dihitung dan dipatok," jelas Jasandi.

Jika berkaca dari pengukuran pada 2013, kata dia, diperkirakan ada 100 dari sekitar 150 rumah yang ada di RT-nya yang akan terkena gusur. Bangunan itu yang terdapat di bibir Kali Ciliwung.

Warga yang tinggal di rumah-rumah itu pun mengaku tidak punya sertifikat tanah. (MTVN/J-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya