Menata Hidup lagi di Rusunawa

Gana Buana/Putri ANisa Yulianti
21/8/2015 00:00
Menata Hidup lagi di Rusunawa
(MI/Immanuel Antonius)

KEMARIN, genap tiga bulan Anita, 47, dan empat anaknya tinggal di lantai 6 nomor TA 0601, Rumah Susun Sewa (Rusunawa) Jatinegara Barat, Jakarta Timur. Anita, merupakan salah satu rombongan pertama warga Kampung Pulo, Jakarta Timur, yang pindah.

Wanita asal Nias, Sumatra Utara, itu mengaku, sejak awal keluarganya tidak keberatan dengan keputusan pemerintah daerah merelokasi warga Kampung Pulo. Padahal, hampir 30 tahun mereka tinggal di sana.

Anita mengaku tidak merugi meninggalkan rumah lamanya yang jauh lebih luas jika dibandingkan dengan di rusunawa. Dulu, enam anggota keluarganya menempati rumah seluas 120 meter persegi. Kini, di rusunawa luasnya hanya 30 meter persegi. Dulu rumah luas, tapi lingkungannya kumuh, sedangkan saat ini lebih nyaman, bersih, dan sehat.

"Ya, saya sudah pasrah, tetapi tidak menyesal sebab lingkungan yang saya tinggali justru lebih bersih dan sehat," ungkapnya kepada Media Indonesia, kemarin (Kamis, 21/8/2015).

Saat ini, dua menara Rusunawa Jatinegara Barat mulai terisi oleh warga Kampung Pulo. Kedatangan mereka memang tidak serempak. Namun, dengan penggusuran yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta hari ini, tiap lantai kedua menara berlantai 16 itu mulai terisi satu per satu.

Enok, 42, salah satu warga RT 02/03 Kampung Pulo, Jatinegara, pun merasa nyaman sejak tinggal satu minggu lalu di Rusunawa Jatinegara Barat itu. "Meskipun suasananya seperti bukan rumah umum kebanyakan, saya dan anak-anak merasa nyaman di sini," ungkapnya.

Hingga saat ini, dari data yang disampaikan Kepala Dinas Perumahan dan Gedung Pemerintah Daerah Pemprov DKI Jakarta, Ika Lestari Aji, 429 kepala keluarga atau 82,5% dari total 520 kepala keluarga Kampung Pulo sudah mendapat unit Rusunawa Jatinegara Barat.

Meskipun demikian, Ika belum mendapat laporan adanya kepala keluarga yang belum mendapat unit rusunawa. Ika menyatakan jumlah unit rusun yang disediakan sudah sesuai dengan jumlah kepala keluarga yang lokasi tinggalnya sudah dipetakan Tim Pembebasan Pengadaan Tanah (P2T).

Jika ada lurah yang melaporkan ada kepala keluarga yang belum mendapat unit rusun, Ika akan langsung memasukkan datanya dan mencari unit rusun yang cocok.

"Unit yang kami sediakan sudah sesuai dengan yang dipetakan oleh P2T. Tapi jika memang ada kelebihan, ya kami masukkan data kami dan nanti kami pertimbangkan," kata Ika ketika dihubungi Media Indonesia, kemarin.

Untuk tiga bulan ke depan, penghuni Rusunawa Jatinegara bisa menempati ruangan tanpa dipungut biaya apa pun. Setelah itu, barulah warga akan membayar iuran wajib sebesar Rp10 ribu per hari.

"Iuran hanya untuk biaya service charge, seperti uang penggantian lampu, kebersihan, atau pengangkutan sampah. Itu sudah disubsidi oleh pemerintah," ujarnya.

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menegaskan penggusuran Kampung Pulo harus terus dilanjutkan dan tidak bisa ditunda.

Ia pun menyetujui upaya Camat Jatinegara yang meminta agar pembongkaran rumah dan bangunan liar di wilayah rawan banjir itu diselesaikan seluruhnya tanpa bertele-tele.

"Memang harus dibongkar. Tidak bisa mundur terus. Kemarin kan rencananya habis Lebaran, tapi mereka sengaja mundur-mundur terus," kata Ahok di Balai Kota.(J-3)

 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya