Bertahan di Pesatnya Perubahan

Taris Hirzi Iman
20/8/2015 00:00
Bertahan di Pesatnya Perubahan
()
KOTA Jakarta tidak pernah berhenti bersolek. Pembangunan fisik terus berlangsung sehingga tidak mengherankan wajah Jakarta dari waktu ke waktu terus berubah. Paling mencolok makin banyaknya gedung pencakar langit. Di tengah perubahan fisik yang begitu cepat, kawasan Jalan Haji Agus Salim, Jakarta Pusat, atau dikenal juga dengan nama Jalan Sabang, ialah salah satu kawasan niaga yang tidak terlalu banyak berubah. Tengoklah bentuk bangunan-bangunan yang berjajar di kawasan tersebut.

Yang berubah dalam 10 tahun terakhir bisa dihitung. Demikian pula dengan toko ataupun rumah makan di lokasi itu, hampir semuanya pelaku usaha lama, bahkan telah berpuluh-piluh tahun. Toko-toko yang masih bertahan di lokasi yang berjarak hanya beberapa langkah dari Jalan MH Thamrin, sebagai jantung kota, antara lain toko roti Sakura Anpan, toko peralatan fotografi Djakarta Foto, Restoran Natrabu, dan beberapa toko lainnya.

"Mau cari apa?" tanya Awi, salah satu penjaga toko Sakura Anpan, kepada Media Indonesia saat memasuki salah satu toko roti tertua di Jalan Sabang tersebut. Saat ditanya soal kue terlaris di toko tersebut, laki-laki yang telah bekerja melayani pembeli sejak 20 tahun lalu itu menyebutkan konsumennya kebanyakan membeli kue black forest. Selain itu, kue-kue berukuran kecil, termasuk risoles dan pastel, juga banyak dicari pelanggan.

Toko yang dikelola Muliati, perempuan yang telah menginjak usia lebih dari 80 tahun, itu hingga kini masih setia menyediakan aneka roti dan kue untuk para pelanggannya. Namun, toko tidak lagi seramai saat masa kejayaannya pada era 90-an. Menurut perempuan tersebut, awalnya pada 1970-an ia berniat membuka toko tekstil. Namun, sulitnya mengurus perizinan ketika itu membuat Muliati pada 1982 banting setir membuka toko roti dan aneka kue.

Saat memulai usaha, meski tokonya berada di tengah kota, usaha tidak berjalan mulus. Ia bahkan selalu merugi sekitar Rp2 juta hingga Rp3 juta per bulan, angka yang besar di masa itu. Namun, ia bertahan hingga kemudian memasuki masa kejayaan di era Orde Baru, kue-kue di tokonya laris manis seiring makin banyaknya pelanggan. Apalagi, perkantoran di sekitarnya juga kerap memesan snack box atau camilan dalam kotak ke toko tersebut, hingga Muliati dan pegawainya kerap kebanjiran pesanan.

Namun, kondisi itu hanya bertahan hingga 1990-an. Seiring berubahnya selera masyarakat dan menurunnya kondisi ekonomi ketika itu, usahanya pun ikut terpengaruh. "Setelah era Orde Baru selesai, permintaan kue juga menurun," tuturnya. Meski kini hanya sebagian pelanggan lama yang masih setia menyambangi tokonya, Muliati kembali harus bertahan. Perempuan itu tetap menjual aneka roti dan kue dengan harga bervariasi, dari yang termurah Rp2.000 per potong berupa roti ukuran mini, kue ulang tahun berkisar Rp225 ribu, hingga lapis legit seharga Rp375 ribu per loyang.

Salah seorang pelanggan setia toko kue itu, Dian, mengaku setia pada kue-kue yang disediakan Sakura Anpan karena selain rasanya enak, harganya murah bila dibandingkan dengan kue sejenis di toko lain. "Dari zaman saya pacaran dulu sampai sekarang, saya selalu memesan kue di toko ini." kata dia saat memesan snack box untuk acara kantornya.

Nuansa tua
Toko lain yang tetap bertahan di Jalan Sabang ialah Djakarta Foto. Mereka yang tidak mengenal toko tersebut mungkin tidak akan menyangka toko peralatan fotografi yang terlihat sepi itu pernah memiliki andil besar sebagai pencetak foto sejumlah media massa cetak dan kantor berita di Indonesia.

Djakarta Foto menjadi tempat yang dikenal masyarakat Jakarta sebagai tempat mencetak foto sejak 1960. Ketika kamera analog masih banyak digunakan, Djakarta Foto ramai dipadati mereka yang ingin mencuci cetak foto. Bahkan, sebagian besar minta foto mereka langsung dimasukkan ke album. Manajer Djakarta Foto, Ginta, mengatakan pengunjung tokonya terus berkurang seiring digunakannya kamera digital.

"Sekarang sudah tidak seramai dulu. Paling yang datang hanya untuk membuat pas foto," tutur Ginta kepada Media Indonesia tanpa mau menyebutkan omzetnya sekarang ataupun di saat studio foto itu berjaya. Sebagai salah tempat usaha yang telah berdiri lama di Jalan Sabang, penampilan Djakarta Foto memiliki nuansa tua. Itu antara lain terlihat dari sedikitnya peralatan fotografi terbaru yang dijual di toko tersebut. "Kami tidak menjual kamera jenis baru," ujarnya sembari menunjukkan rak etalase yang dipenuhi peralatan fotografi lawas.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya