Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
SUHARDI, 65, warga Jalan Taman Kemang, Kelurahan Bangka, Jakarta Selatan, masih mengingat dengan jelas bentuk wilayah Kemang berpuluh tahun lalu.
Laki-laki yang lahir, tumbuh besar, dan menua di wilayah tersebut mengenang Kemang sebagai wilayah yang dipenuhi lahan hijau, dengan hanya sedikit bangunan rumah.
Kondisi Kemang yang hijau saat itu masih ditambah dengan keasrian Kali Krukut yang masih terjaga.
Lebar Kali Krukut masih berkisar 20 meter.
Pekerja harian lepas dari Suku Dinas Kebersihan, Jakarta Selatan, itu mengingat dirinya sempat mengalami masa-masa menyeberangi kali dengan menggunakan getek.
"Dulu banyak sekali taman-taman dan lapangan. Kali Krukut dulu masih luas, bisa buat naik getek. Sekarang boro-boro," ujarnya kepada Media Indonesia, beberapa waktu lalu.
Sebagian besar rumah di wilayah itu memang milik sang penghuni, sedangkan sebagian kecil lainnya disewa warga miskin yang bekerja pada tuan tanah dan petani.
Namun, pertumbuhan permukiman yang terus bergerak seiring dengan berjalannya waktu membuat Kemang menjadi sesak. Bangunan perumahan mewah bermunculan, disusul tumbuhnya tempat hiburan untuk berbagai kalangan yang tinggal di sana.
Secara historis, pada 1970-1980, lahan Kemang diperuntukkan perumahan.
Pada periode yang sama, ekspatriat asing berdatangan.
Kemang dipilih sebagai lokasi strategis untuk ditinggali.
Berdasarkan penelitian planologi Universitas Trisakti pada 2001, lebih dari 57% lahan di Kemang Raya dan Kemang Selatan berubah fungsi menjadi tempat usaha.
Padahal, sebelumnya, 73% lahan merupakan tempat tinggal.
Kini sebagian besar Jalan Kemang Raya dipenuhi tempat hiburan dan restoran.
Ruang hijau berganti dengan aspal dan batu-batu conblock.
Rumah-rumah yang masuk Jalan Kemang Selatan maupun Utara pun berubah fungsi menjadi salon, butik, dan lainnya.
"Makin lama rumah makin banyak. Setelah mulai banyak rumah, genangan pun mulai bermunculan," kata Suhardi.
Tak hanya itu, kawasan Kemang yang memiliki banyak permukiman mewah pun memancing pertumbuhan tempat hiburan dan sarana lainnya yang dilakukan untuk mengeruk keuntungan.
Dengan demikian, lambat laun Kemang tumbuh menjadi kawasan pergaulan elite di Jakarta.
"Mulai banyak kafe-kafe, restoran sama diskotek itu dari 1990-an. Awalnya dari kafe dulu karena di sini banyak orang asing kerja di TB Simatupang atau Blok M mampir ke sini karena posisinya di tengah-tengah."
Berubah ruko
Hal senada diungkapkan Parni, 55, warga Jalan Kemang Selatan 7.
Pedagang warung eceran itu menyesalkan banyaknya perubahan rumah menjadi ruko, yang kemudian kebablasan menjadi pertokoan dan restoran.
"Pinggir-pinggir Jalan Kemang Raya itu dulunya rumah lo. Punya halaman luas, ujungnya dibikin ruko, eh lama-lama jadi restoran full. Berkurangnya taman di perumahan itu bisa jadi yang bikin banjir juga," kata Parni.
Ia menyesalkan pembiaran yang berlangsung lama.
Kini warga pun ikut menuai akibat yang dilakukan para pemilik lahan dan rumah yang berubah fungsi menjadi tempat komersial.
"Yang disalahkan siapa? Pemerintah. Makanya kalau bisa jangan diam. Sekarang saatnya, kalau memang mau dikembalikan ke fungsi awal, gusur saja semua," kata Parni.
(J-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved