Suplai Turun,Tagihan Rokok Melonjak

(Putri Anisa Yuliani/J-3)
26/8/2016 02:50
Suplai Turun,Tagihan Rokok Melonjak
(THINKSTOCK)

HARI-hari ini penghuni Apartemen Kalibata City gundah gulana, resah, dan takut pasokan air ke unit apartemen mereka diputus pengelola. Bukan lantaran adanya kerusakan jaringan, melainkan pesan singkat dari pengelola yang isinya menagih penambahan biaya air untuk jangka waktu 1,5 tahun sebelumnya. Biaya yang ditagih itu disebut sebagai biaya kelangkaan air. Biaya tersebut seluruhnya dibebankan kepada penghuni sebagai biaya pembelian air tambahan. Pengelola berdalih membutuhkan air tambahan karena berkurangnya suplai air dari operator, yakni PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja). Anehnya, sebelumnya tak pernah ada pemberitahuan baik dari Palyja maupun pengelola bahwa suplai air berkurang.

"Alasannya, itu suplai air menurun terus pengelola harus membeli air agar bisa suplai ke kami. Tapi kami tak pernah dikasi tahu menurunnya itu sejak kapan dan kenapa. Detailnya seperti apa kami tidak tahu," kata Umi, 35, salah seorang penghuni, kepada Media Indonesia, Rabu (24/8).

Sebelumnya, Umi yang tinggal hanya berdua dengan adiknya membayar Rp56.150 hingga Rp163.900 per bulan. Biaya tersebut dengan estimasi pemakaian 7 meter kubik hingga 22 meter kubik per bulan, dengan tarif Rp7.450 per meter kubik. Namun, dengan adanya biaya kelangkaan air, Umi harus membayar Rp80.600 hingga Rp253.000 per bulan. Itu juga bukan dengan tarif Rp7.450 per metek kubik, pengelola menaikkan tarif menjadi Rp11.500 per meter kubik.

Penaikan tersebut juga tidak disosialisasikan sebelumnya. Kesewenangan pengelola makin menjadi, sebab tagihan tersebut diminta sejak Januari 2015 hingga bulan ini. Dengan tarif baru itu, Umi harus bersiap merogoh koceknya lebih dalam untuk membayar Rp1,6 juta hingga Rp5 juta. Keberatan yang sama diajukan juga oleh Ketua Komunitas Warga Kalibata City, Bambang. Bambang menilai kekarutmarutan pengelolaan iuran disebabkan ketidaksiapan pengembang dalam membangun apartemen.

"Saya dengar pengembang sudah dapat perintah segel dari BPLHD (Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah) karena pengolahan air limbah tak juga dibuat. Bisa jadi uang kami diarahkan ke sana," terangnya. Di sisi lain, Kepala Divisi Tanggung Jawab Sosial dan Kehumasan Palyja Meyritha Maryanie menegaskan suplai air ke Apartemen Kalibata City telah berangsur normal setelah mengalami gangguan pada Juli lalu.

Ia juga mengatakan Palyja tak pernah menaikkan tarif sejak 2007. Pihaknya belum berencana menaikkan tarif air dalam waktu dekat. "Sejak 2015, kami bertahap penuhi permintaan air untuk Apartemen Kalibata City. Suplai air memang ada gangguan pada Juli, tapi sudah normal lagi. Kami juga tambah dua pompa untuk tetap menjaga suplai air," terangnya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya