Bertikai karena Hal Sepele

MI/ (Deni Aryanto/J-4)
13/8/2015 00:00
Bertikai karena Hal Sepele
(Sumber Polres Jakarta Pusat/Grafis Caksono)
BERJUALAN gado-gado di simpang Jalan Rawa Sawah IV, Kampung Rawa, Johar Baru, Jakarta Pusat, bagi Mi, 46, ialah mata pencarian utama guna mencukupi kebutuhan hidup keluarga. Suaminya sehari-hari hanya bekerja sebagai penarik ojek sepeda motor yang tidak tentu penghasilannya. Namun, belakangan keamanan dan ketenangannya dalam mencari nafkah terusik oleh ancaman batu, kayu, besi, atau benda lainnya yang bisa saja tiba-tiba beterbangan melintas di depan matanya.

Penyebabnya lapak gado-gado miliknya kerap menjadi lokasi tawur antara warga Kampung Rawa dan Johar Baru. Perempuan itu tidak hanya mengkhawatirkan keselamatan jiwanya, tetapi juga nasib tempatnya berdagang yang bisa saja rusak karena terkena sasaran tawur. Dengan nada kesal ia menceritakan, etalase kaca tempatnya berjualan gado-gado pernah pecah terkena lemparan batu. Saat itu Mi hanya pasrah melihat.

Bila tawur tengah berlangsung, kondisi tempat tersebut bak medan perang. Jalanan dipenuhi tumpukan batu, suara ledakan petasan, teriakan ratusan orang yang sebagian menenteng aneka senjata tajam. Itu membuat suasana sangat menakutkan. Ratusan wajah beringas yang didominasi usia remaja saling meluapkan emosi tanpa memperhitungkan bahaya bagi warga lainnya.

Karena itu, ketika bentrok meletus, Mi biasanya memilih menjauh dari lapak gado-gadonya. "Saya pasrah aja lihat lapak berantakan. (Peristiwa) itu enggak cuma sekali. Kalau (lagi tawur), etalase pecah atau meja hancur," kenang Mi, Selasa (11/8). Perempuan itu mengatakan tawur biasanya terjadi tiba-tiba.

Seakan sudah dijanjikan, massa dari dua kelompok dalam jumlah besar dalam waktu singkat berkumpul dan saling serang. Polisi yang datang ke lokasi, bila jumlahnya sedikit, tidak mampu membubarkan massa yang terlibat bentok di kawasan padat tersebut. Wasijo, 55, warga setempat, menambahkan, perwakilan warga kedua pihak yang bertikai sudah berulang kali bermusyawarah agar tawur tidak terulang.

Namun, tawur terus terjadi dan pemicu utama keributan justru alasan sepele. "Keributan bisa cuma karena saling lihat, terus berantem atau salah satu pihak tidak suka ada warga dari luar lewat wilayahnya tanpa permisi," ungkapnya. Sejak awal tahun hingga kini setidaknya telah terjadi empat kali bentrokan warga dalam skala besar di sekitar Johar Baru.

Sudah belasan, atau mungkin puluhan, warga menjadi korban. "Belum lama ini ada satu warga yang meninggal. Kejadian itu malah memperuncing keadaan. Dendam di antara kedua pihak semakin besar," urainya.

Lahan parkir
Daerah padat penduduk lainnya yang kerap terjadi tawur ialah kawasan Petamburan, Tanah Abang. Seperti daerah rawan keributan lain, tawur antarwarga di tempat tersebut pecah akibat dipicu masalah sepele. "Di sini (tawur warga) sudah tidak terlalu sering. Sebelumnya bisa hampir tiap malam Minggu," jelas Beni, 48, warga Petamburan III.

Di lokasi itu, mereka yang kerap berseteru ialah warga Gang Mulia, Petamburan III, dan Gang Pangsi, Petamburan IV. "Umumnya yang tawur remaja. Mereka biasa nongkrong bergerombol. Setelah tawur reda, biasanya hanya gara-gara saling ejek, terjadi tawur lagi," ujarnya. Tanah Abang sudah lama dikenal sebagai kawasan bisnis, dari perkantoran, pusat perbelanjaan, pasar, hingga bisnis prostitusi terselubung.

Bersama itu, turut menjamur keberadaan parkir liar dan aktivitas premanisme. "Memang enggak jarang rebutan lahan parkir menimbulkan tawur. Buntutnya merembet ke warga lainnya," ujarnya. 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya