LEO, 46, mengurangi laju sepeda motornya saat mendekati pusat perbelanjaan Ramayana, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Matanya mengawasi pos pantau Polsek Pasar Minggu yang berada 5 meter dari tikungan, menuju Jalan Al Mukhtar. Ia ingin memastikan keadaan aman, bersih dari petugas patroli.
Setelah yakin kondisi aman, ia pun langsung tancap gas melewati pos pantau, melawan arus menuju Jalan Al Mukhtar, tepat di samping Stasiun Pasar Minggu.
"Daripada harus muter balik dulu, jauh. Mending melawan arus, lebih cepat," ujarnya.
Leo tidak sendirian. Puluhan pengendara motor yang berada di belakangnya pun ikut melakukan kenekatan yang sama. Mereka memilih melawan arus dari Jalan Raya Pasar Minggu yang menuju ke kawasan Lenteng Agung, untuk menuju ke Jalan Al Mukhtar, daripada harus menyusuri Jalan Raya Pasar Minggu ke arah Kalibata, untuk kemudian berputar balik ke Jalan Al Mukhtar.
Tindakan para pelanggar itu kerap membuat para pengendara yang berjalan ke arah Lenteng Agung gelagapan ketika sampai di tikungan itu. Badan jalan lebih didominasi para pelanggar arus.
"Kalau lewat sini, memang sudah sering melawan arus. Yang lain juga banyak yang melawan arus. Jadi, saya ikut sajalah," kata Leo.
Alih-alih cemas, para pelawan arus malah sering bertindak seenaknya. Akibatnya, Jalan Al Mukhtar yang menghubungkan kawasan Pasar Minggu dengan Condet, Jakarta Timur, pun sering kali macet.
Atas hal itu, kepolisian bukannya tidak berbuat apa-apa. Kapolsek Pasar Minggu Komisaris Doddy Ferdinan mengatakan petugas sudah sering menindak, tetapi tidak membuat para pelanggar kapok. "Tentunya kami telah melakukan penindakan dengan melakukan penjagaan di pertigaan Stasiun Pasar Minggu. Jadi, kalau ada pengendara melawan arus, langsung ditilang," terangnya.
Doddy menjelaskan lebih lanjut, sedikitnya ada dua sampai lima petugas yang melakukan penjagaan dan pengawasan di tempat tersebut dalam satu hari. Namun, pos tersebut masih kekurangan personel karena terlalu banyak pelanggar. Apalagi, di jam-jam siang petugas beralih melakukan pengamanan di sidang praperadilan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
"Masyarakat juga memang sulit sekali diatur. Mereka tidak mau diarahkan meski sudah diberikan sanksi, tetap saja melawan arus," Doddy menambahkan.(J-4)