Tidak Ada Lahan, Jalan pun Jadi

Yanurisa Ananta
18/8/2016 08:00
Tidak Ada Lahan, Jalan pun Jadi
(Peserta lomba panjat pinang mencoba melewati rintangan saat perlombaan di kawasan Kalimalang, Jakarta Timur---MI/Galih Pradipta)

KEMARIN (Rabu, 17/8), di sejumlah wilayah di Jakarta, ribuan warga memanfaatkan jalan untuk merayakan HUT ke-71 kemerdekaan Republik Indonesia. Sebagaimana terlihat di sepanjang Jalan Jatibaru Raya, Tanah Abang, Jakarta Pusat, mereka terpaksa menggunakan sarana umum itu karena ketiadaan lahan.

"Di Tanah Abang memang sudah tidak ada lapangan terbuka. Kami terpaksa memanfaatkan fasilitas umum, seperti trotoar dan jalan raya," ujar Ade, Ketua RT03/RW01, Jalan Jatibaru Raya, Tanah Abang, kemarin.

Ade mengaku tidak ada kendala saat memanfaatkan fasilitas umum itu. Kondisi jalan tidak sepadat biasanya. Pada hari-hari libur, di jalan di sana jumlah kendaraan yang melintas bisa dihitung jari.

Hampir setiap tahun, jelas Ade, warga memanfaatkan jalan di sana dan tidak perlu izin untuk itu. Arena lomba seluas sekitar 9x5 meter dengan sisi kanan jalan hanya dibatasi tali. Karena khawatir membahayakan pengguna jalan dan peserta perayaan, perlombaan yang diadakan cukup sederhana, seperti makan kerupuk, memasukkan paku ke botol, dan lomba joget dengan balon.

"Tidak ada tarik tambang dan balap karung karena khawatir ada kecelakaan. Ini kan aspal," imbuhnya.

Salah satu warga, Narti, 67, mengaku senang mengikuti perlombaan meski hanya di pinggir jalan. Hal itu menjadi hiburannya sebagai pedagang minuman di pinggir Stasiun Tanah Abang. "Seru. Setiap tahun saya ikut," ujar Narti sembari menggoyangkan tubuhnya mengikuti alunan musik.

RT 01 dan RT 02 di kawasan yang sama juga mempraktikkan hal itu. Meski berlangsung seadanya, hal itu tidak menyurutkan antusiasme anak-anak mengikuti beragam perlombaan, seperti tangkap belut, makan kerupuk, lomba kelereng, balap karung, dan lomba joget.

Terhalang proyek
Biasanya di sepanjang Sungai Kalimalang, Jakarta Timur, puluhan batang pohon pinang berderet menanti warga yang tertarik lomba panjat pinang dengan hadiah-hadiah yang menarik. Sayangnya, tahun ini batang pinang yang tampak bisa dihitung jari.

Pantauan Media Indonesia, kemarin, hanya ada sembilan pinang yang menancap di Kalimalang, mulai Kelurahan Cipinang Melayu hingga Kelurahan Pondok Kelapa.

Inez, salah satu panitia lomba HUT Indonesia dari RT 001 RW 012 Kelurahan Pondok Kelapa, mengatakan lomba panjat pinang memakan biaya banyak, setidaknya Rp3 juta untuk batang pinangnya saja. Tidak hanya itu, absennya panjat pinang disebabkan tempat yang biasa dipakai terhalang oleh proyek pembangunan Tol Bekasi, Cawang, Kampung Melayu (Becakayu).

Romli, warga RT 004 RW 005 Kelurahan Pondok Kelapa, menambahkan, selain panjat pinang, lomba yang juga tidak bisa digelar ialah gebuk bantal dan tangkap bebek. Menurut Romli, banyak material proyek yang jatuh ke Kalimalang dan membahayakan peserta jika sampai jatuh ke dasar kali.

Proyek Tol Becakayu, menurut Romli, mengakibatkan perayaan lomba di Kalimalang tak semeriah dulu. Lomba jadi tak ramai lagi sebab beberapa lokasi di aliran Kalimalang sudah tidak bisa digunakan untuk lomba karena terhalang oleh bangunan dan material proyek Tol Becakayu.

"Dulu setiap RT ngadain di sepanjang aliran Kalimalang. Di sini saja bisa 10 pinang. Tahun ini terlihat sangat berkurang. Mungkin karena Tol Becakayu ini," ujarnya.(Beo/J-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya