IMRAN, 30, memiringkan motor Yamaha Jupiter hijau yang salah parkir itu hingga 90 derajat. Setelah posisinya tepat, sembari menyeka peluh, ia berpindah ke motor lain di sebelah si motor Jupiter. Motor itu juga digeser-gesernya supaya tidak menghalangi jalan. Sudah hampir 1 jam, pekerjaannya belum juga selesai. Ia memandang ke area parkir motor di Stasiun Bekasi, melihat mana lagi motor yang harus dia perbaiki posisinya.
"Ini yang parkir suka sembarangan saja," tuturnya sembari memperbaiki posisi motor yang lain lagi.
Sebagai petugas parkir di Stasiun Bekasi, Imran bersama rekan-rekannya harus cekatan membetulkan posisi setiap motor yang salah parkir, apalagi kalau sampai menghalangi jalan yang biasa dilalui pejalan kaki.
Tugasnya bakal lebih repot saat pagi hari. Setiap harinya ada 3.000 motor yang parkir di Stasiun Bekasi. Kebanyakan milik pekerja yang harus berangkat ke Jakarta. Saat jam berangkat kerja, bisa puluhan motor datang sekaligus. Petugas jadi harus tergopoh-gopoh mengatur, apalagi hanya ada enam petugas parkir. Tiga bertugas di sisi selatan, sisanya di sisi utara. Telat sedikit saja, tumpukan motor yang berantakan bertambah banyak, dan makin menambah beban para petugas parkir. Belum lagi para penumpang KRL yang kerap tergesa-gesa karena harus buru-buru naik kereta.
"Kami sering kewalahan kalau pagi. Kalau sore, kerepotannya itu sering ada penumpang yang lupa parkir motor di sebelah mana. Mungkin karena saking banyaknya yang parkir," kata Imran.
Sementara itu, di Stasiun Tangerang, Asmuni, 35, juga mengalami kerepotan seperti Imran. Penumpang yang sering lupa posisi memarkir motornya itu kerap membuatnya harus berkeliling mencari motor yang dimaksud. "Ya memang harus sabar karena memang sudah kerjaan saya," tuturnya.
Para penumpang yang tergesa-gesa harus mengejar kereta kerap memarkir motor mereka secara serampangan. Tugas Asmuni dan dua rekannya ialah menata motor-motor yang diparkir sekenanya itu.
"Untuk mereka yang seperti ini, saya selalu minta agar tidak mengunci setang kendaraannya. Tujuannya tidak lain agar sepeda motor itu bisa ditata rapi sesuai dengan lajur yang ada," kata Asmuni.
Namun, tetap saja ada pengendara yang mengunci setang motor mereka sehingga membuat Asmuni lebih repot untuk merapikannya. "Sudah dikunci setang, posisinya melintang pula, tapi tetap saya rapikan dengan cara mengangkat bagian belakang sepeda motor agar lurus dan sejajar dengan motor lainnya."
Tidak hanya itu, setelah motor-motor dirapikan, ia masih harus menyiapkan banyak tenaga saat jam pulang kantor. Saat itu, banyak motor yang harus keluar parkir. Tidak sedikit di antara mereka terhalang oleh motor lainnya sehingga harus dipindah-pindahkan.(J-4)