Ditekan malah tidak Terkontrol

(Nic/Aya/Beo/J-3)
12/8/2016 00:40
Ditekan malah tidak Terkontrol
(MI/ARYA MANGGALA)

UPAYA pemberantasan wilayah yang dikenal sebagai surga narkoba di Jakarta merupakan pencapaian dalam penindakan. Namun, efek negatif yang patut diwaspadai ialah pola peredaran narkoba menjadi semakin tidak terkontrol. "Ketika kampung-kampung yang tadinya jadi pusat peredaran narkotika itu mulai diberantas, sebaran barang itu sendiri masih ada, pasarnya tetap ada, malah jadi menyebar ke mana-mana. Cenderung tidak terkontrol," ujar Organizational Development Coordinator Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI), Andreas P Istiawan, saat ditemui, Sabtu (6/8). Menurut Andreas, semua tempat di Jakarta itu rawan narkoba. Apalagi, dengan adanya teknologi komunikasi, siapa pun bisa menelepon dan bisa googling. Itu nyata ada. Mereka semacam punya sense mana orang yang benar-benar penjual atau hanya penipu. Belum lagi adanya bahasa-bahasa sandi dalam perdagangan narkoba. Akibatnya, pola itu bahkan membuat pemberantasan narkoba menjadi pekerjaan rumah yang makin sulit. Pemberantasan narkoba, menurut Andreas, jangan hanya menyasar para pengguna, tetapi juga penyebarannya. "Pemakai itu korban dan pemerintah berkewajiban melindungi korban dari bahaya narkoba. Harus ada upaya rehabilitatif, jangan melulu upaya represif. Ketika kita berbicara tentang narkoba, jangan lagi dianggap tabu," tegasnya. Andreas membandingkan upaya kampanye antinarkoba yang dilakukan Pemerintah Australia dengan Indonesia. Informasi mengenai jenis-jenis dan bentuk-bentuk narkoba betul-betul disampaikan secara gamblang. Hal ini bisa dilihat dari situs Kampanye Nasional Antinarkoba Departemen Kesehatan Pemerintah Australia. Foto-foto nyata dari berbagai jenis narkoba menjadi poin utama ketika siapa pun mengakses situs ini.

"Sebaliknya, di situs BNN isinya hanya pencitraan. Isinya laporan kegiatan dan pencapaian yang menggambarkan kesuksesan mereka. Padahal, permasalahan utama generasi muda yang terjerumus narkoba, berawal dari rasa penasaran dan ketidaktahuan mereka mengenai narkoba itu sendiri," sesal Andreas. Di sisi lain, Ketua RT 12/RW 05 Jalan Arjuna, Tanah Tinggi, yang enggan disebut identitasnya, menilai upaya aparat memberantas narkoba masih setengah hati. Ia mencontohkan daerahnya yang terkenal dengan sebutan 'Resto Narkoba'. Kini tidak banyak kegiatan penjagaan dan penyuluhan yang dilakukan di kawasan Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat. Akibatnya, aktivitas transaksi pengedar narkoba di kawasan itu diduga masih. "Yang kita harapkan bukan orang yang sudah baik. Sasarannya mereka yang ada di lingkaran peredaran narkoba. Itu yang belum tersentuh dengan maksimal," ujarnya. Dirinya mengakui kawasan Tanah Tinggi masih belum aman. Hingga kini masih sering berseliweran transaksi narkoba di jalanan dengan sangat cepat. Orang awam tidak akan menyadari itu. Modus yang umumnya digunakan ialah dengan membawa motor sambil membawa bayi atau kandang burung. "Sistem transaksi canggih. Kadang-kadang mereka tidak perlu berhenti, tapi kasih kode," tambahnya. Dedi, Ketua RW 014 rusun Tanah Tinggi, menambahkan memang tidak ada satgas khusus yang dibentuk guna mencegah peredaran narkoba di kawasan padat penduduk itu.

Inisiatif warga menutup tiga pintu kecil yang berbatasan dengan rumah penduduk (luar rusun) berhasil mengurangi warga kampung yang berlalu lalang di area rusun. Dari total lima pintu akses rusun, tiga di antaranya merupakan pintu kecil yang terletak di pinggiran rusun yang berbatasan langsung dengan permukiman warga. Kini pintu itu sudah ditutup dengan semen setinggi 2 meter lengkap dengan kawat berduri di atasnya. Dedi mengaku, transaksi narkoba yang biasanya dilakukan di lapangan terbuka di pojokan rusun kini sudah tidak ada setelah tiga pintu akses ditutup. Bersama pemuda-pemuda rusun, Dedi berencana membentuk Forum Pemuda Rumah Susun sebagai komunitas yang aktif berkegiatan positif. "Ini sebagai upaya preventif. Kami sedang berupaya membuat Forum Pemuda Rumah, tapi keputusannya belum final," tutur Dedi saat ditemui di rusun Tanah Tinggi, Kamis (11/8). Kasat Serse Narkoba Polres Jakbar AKB Suhermanto dan Kasat Serse Narkoba Polres Jaksel AKB Vivick Tjangkung mengakui sulitnya memberantas peredaran narkoba. "Belum bisa steril karena pertama masyarakat belum mau aktif menyampaikan jika ada temuan narkoba. Kemudian, penjahat narkoba itu terus pakai modus baru, misalnya, sekarang tidak lagi pakai kurir, tapi pakai ekspedisi," ungkap Vivic.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya