Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
PENUMPUKAN sampah di sungai-sungai yang melintasi Jakarta mengusik jiwa kreatif empat mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB); Prayoga Sunandar, M Joffy Mahardika, Putra Ansa Gaora, dan Andri Nur Rachman. Bersama sang dosen, Slamet Widodo, mereka membuat sebuah mesin otomatis yang berfungsi mengambil sampah di aliran sungai.
“Kami lihat hampir setiap pintu air sungai-sungai di Jakarta dipenuhi tumpukan sampah. Selama ini sampah-sampah itu diangkut masih secara konvensional, yakni dikerjakan secara manual oleh pekerja dengan menggunakan alat berat. Nah alat kami ini bisa menggantikan itu semua karena bekerja secara otomatis,” terang Prayoga selaku ketua tim kepada Media Indonesia.
Mesin Jagau, begitu mereka menamakan karya kreativitas tersebut. “Itu singkatan dari Jakarta Antigalau. Karena tujuan diciptakannya mesin ini supaya warga Jakarta enggak galau lagi gara-gara banjir akibat tumpukan sampah di sungai,” seloroh Prayoga.
Selama warga Jakarta masih belum bisa keluar dari perilaku membuang sampah di sungai, sambung dia, cara manual itu hanya akan menghabiskan waktu dan biaya yang tinggi. Dengan mesin Jagau, penanganan sampah itu akan makin cepat dan tentu biayanya jadi murah.
Mesin itu bekerja dengan baling-baling raksasa yang berputar untuk mengambil dan mengangkat sampah yang menumpuk di permukaan air. Sampah-sampah yang terangkut itu kemudian dialirkan menggunakan konveyor ke bak penampungan yang berada di bibir sungai.
“Nanti truk sampah tinggal ambil sampah-sampah itu dari bak penampungan. Simpel kan cara kerjanya,” ujar Prayoga.
Berputarnya baling-baling sebagai penangkap dan pengangkut sampah bekerja dengan dua cara, berputar menggunakan interval waktu atau menggunakan alat sensor.
“Seperti saya sebut tadi, si Jagau ini kami ciptakan sebagai alat yang berfungsi mengambil sampah di sungai secara otomatis, efektif, dan efisien. Jika bekerja berdasarkan interval waktu, setiap 30 menit sekali baling-baling akan berputar dan mengangkut sampah hingga 300-500 kilogram dalam sekali angkut,” jelasnya.
Penggunaan dengan alat sensor ialah, setelah baling-baling dibebani sampah dalam volume tertentu, alat sensor itu akan mengirim perintah untuk memutar baling-baling itu. Tumpukan sampah itu pun akan diangkat baling-baling secara otomatis.
“Alat ini membuat semuanya menjadi efisien. Nanti cukup butuh satu orang yang bertugas sebagai penjaga mesin karena mesin sudah bekerja sendiri,” jelas Prayoga. Dia menyebutkan biaya pembuatan alat itu jauh lebih murah jika dibandingkan dengan pembelian alat berat pengeruk sampah yang mencapai Rp2 miliar per unit. “Biaya pembuatan si Jagau Rp650 juta per unit. Murahnya harga si Jagau bisa membuat Pemprov DKI berhemat,” ujar Prayoga. (Dede Susianti/J-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved