USMAN Efendi, 35, sudah tiga bulan menjadi driver Go-Jek. Pendapatan yang fantastis selama ia bekerja akan digunakan untuk membeli mobil. "Target saya lima bulan sudah bisa beli mobil," kata Usman kepada Metrotvnews.com, Rabu (5/8). Menurut Usman, dalam sebulan pendapatannya mencapai Rp15 juta.
"Sehari Rp500 ribu itu bersih. Saya mau beli Avanza. Abis itu saya ingin nabung buat naik haji," ungkapnya. Inovasi bisnis ojek yang fenomenal membuat kantor Go-Jek di Jalan Kemang Selatan, Jalan Bangka, dan Jalan Walter Mongonsidi selalu ramai. "Yang di Bangka itu untuk training, di Walter Mongonsidi untuk operasional," kata salah satu karyawan Go-Jek yang enggan disebutkan namanya.
Kantor Jl Kemang Selatan merupakan bangunan dua lantai dengan desain minimalis dan didominasi kaca. Dari luar tampak beberapa orang sedang menunggu ingin melamar khusus sebagai karyawan. Semua karyaman terlihat asyik bekerja. Jika tidak memandangi laptop, mereka sibuk mondar-mandir.
Seorang karyawan bernama Sisi, mengaku nyaman dengan suasana kerja di Go-Jek. Salah satu hal yang membuatnya nyaman ialah banyaknya karyawan yang seusianya. "Di sini banyaknya muda-muda. Salah satu visi kita kan yang muda yang berkarya. Kita juga kalau kerja nyantai bisa pakai kaus," katanya.
Namun, bisnis ojek hingga saat ini belum dilegalkan pemerintah. Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya dan Dinas Perhubungan DKI baru akan membahas legalitas Go-Jek dan ojek biasa pada Jumat (7/8) di Balai Kota DKI. Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Risyapudin Nursin mengatakan friksi antara ojek pangkalan dan Go-Jek semakin terlihat.
Bahkan, banyak spanduk larangan Go-Jek yang terpasang di beberapa titik jalan dan terkesan menjadi teror. "Oleh karena itu, kita akan koordinasi dengan Dishub DKI. Sebenarnya kasus itu ranahnya dishub dan kami hanya melakukan penindakan manakala ada yang melanggar," katanya.
Menurut dia, UU Nomor 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan menjelaskan bahwa sepeda motor sejatinya bukan sarana angkutan penumpang. Lantaran keterbatasan sarana transportasi umum, ojek pun akhirnya muncul sebagai alternatif untuk menjawab keluhan masyarakat. Dahulu ojek banyak beroperasi di wilayah perdesaan karena transportasi umum tidak bisa menjangkau hingga pelosok.
Adapun di Jakarta, lanjut Risyapudin, Go-Jek menjadi alternatif angkutan untuk menerabas macet dan menghemat waktu tempuh . Kapolda Metro Jaya Irjen Tito Karnavian menegaskan pihaknya akan menangkap siapa pun pihak yang melakukan penganiayaan dan kekerasan. "Pasti kita tangkap," katanya.
Ia menambahkan, ada perbedaan segmen penumpang antara ojek online dan ojek pangkalan. "Ini segmennya beda. Go-Jek lebih banyak masyarakat menengah ke atas. Sementara ojek pangkalan masyarakat kelas bawah."