PANDANGAN Yani, 35, sesekali mengarah ke Cilandak Town Square (Citos), berharap bus patas 135 jurusan Tanjung Priok-Ciputat yang ditunggunya segera lewat. Yani yang tengah duduk di pinggir jalan Cilandak sesekali mengetik di telepon seluler, mengirim pesan lewat aplikasi Whatsapp kepada sopir bus dan penumpang lain, mengecek posisi bus yang ditunggunya.
"Harusnya bus itu sebentar lagi sampai sini. Katanya sudah di tol depan Citos. Barangkali kena macet," ujarnya saat ditemui, Senin (3/8).
Sejak kehadiran armada Trans-Jakarta, keberadaan bus patas 135 memang tersisihkan. Sebagian besar penumpang memilih beralih ke Trans-Jakarta. Saat ini bus tersebut hanya tersisa delapan unit dan dari jumlah itu, hanya lima bus yang beroperasi dalam sehari. Kondisi itu membuat para pekerja harus menghafal jadwal keberangkatan bus setiap harinya. Yani mengeluh waktunya kerap habis untuk menunggu, apalagi bus patas 135 hanya lewat tiap 2 jam sekali.
Untuk memangkas waktu menunggu, Yani dan bersama penumpang lain yang memiliki rute Tanjung Priok-Cilandak berinisiatif membuat grup di Blackberry Messanger (BBM) dan Whatsapp. Selain penumpang senasib, para sopir pun ikut masuk di grup itu.
"Jadi, kami punya grup BBM dan WA untuk mengecek jadwal bus berangkat dari Ciputat dan kapan bus sampai di halte ini," tuturnya.
Bus patas 135 menjadi satu-satunya bus ke arah Tanjung Priok yang masih bertahan di kawasan Jakarta Selatan. Sebelumnya bus patas 49 jurusan Blok M-Tanjung Priok dan patas 82 Depok-Tanjung Priok via Lenteng Agung telah ditutup karena kehabisan penumpang.
"Tinggal trayek ini saja yang belum dihapus. Kami jadi tergantung dengan bus ini."Biasanya grup di telepon seluler itu mulai aktif pada jam-jam berangkat dan pulang kantor. "Sopir dan anggota grup saling kasih informasi posisi bus ada di mana," imbuhnya.
Keberadaan grup tersebut membuat Yani tidak perlu menunggu lama dan bisa menggunakan waktunya untuk hal lain. "Kalau sudah tahu kapan bus datang, jadi bisa menggunakan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan. Daripada nunggu di halte kelamaan."
Tidak hanya penumpang, para sopir bus jurusan itu juga sangat bergantung pada penumpang. Setiap harinya, bus nyaris tidak pernah penuh penumpang. Bahkan pada siang hari, satu bus bisa hanya terisi delapan orang penumpang.
Salah seorang sopir bus patas 135, Firdaus, 54, mengaku sangat terbantu dengan bergabung di grup itu. Sekarang ia terbiasa memberi informasi kepada penumpang di grup, kapan berangkat dari Tanjung Priok dan kapan berangkat dari Ciputat. Cara tersebut membuatnya bisa mendapat penumpang lebih banyak. "Yah lumayan buat nambahin sewa, makanya ikutan gabung," tuturnya.
Firdaus bergabung ke beberapa grup itu karena diminta para penumpang tetapnya. "Ada sekitar lima grup dari setiap penumpang yang dari Tanjung Priok atau Ciputat. Setiap hari saya bagi informasi ke mereka," tukasnya.(J-4)