Ke Bekasi Menggapai Mimpi

Gana Buana
04/8/2015 00:00
Ke Bekasi Menggapai Mimpi
(MI/IMMANUEL ANTONIUS)
ADA gula ada semut. Pepatah itu rasanya pas untuk menggambarkan fenomena Kota Bekasi. Kota Patriot itu merupakan salah satu kawasan industri yang besar.

Puluhan pabrik perusahaan mancanegara berada di sana. Belum lagi perusahaan multinasional dan nasional. Hal itu menawarkan sejuta mimpi bagi warga daerah meskipun kenyataannya tak seindah yang diharapkan.

Siti Inayah, 26, warga Semarang, Jawa Tengah, salah satu contohnya. Dia nekat datang ke Bekasi untuk mencari pekerjaan yang layak.

Pada 10 Mei 2015, Inayah berangkat ke Bekasi dengan kereta api. Ihwal kedatangannya ke Bekasi karena dia mendapat kabar ada lowongan pekerjaan sebagai buruh pabrik dari tempat saudaranya bekerja. Namun, sesampainya di sana, lowongan tersebut sudah terisi. Akhirnya, dia luntang-lantung mencari pekerjaan lain.

"Setelah lulus SMA, saya tidak bisa melanjutkan sekolah. Tidak ada biaya, lalu saudara di Bekasi bilang ada kerjaan di tempat kerjanya. Langsung saya berangkat ke Bekasi. Namun, sampai di sana ternyata lowongan itu sudah terisi. Akhirnya, mau enggak mau saya cari pekerjaan lain, buat makan, tapi belum dapat," ujar Inayah, saat ditemui <>Media Indonesia, Senin (3/8/2015).

Sebelum ke Bekasi, Inayah mengaku sempat bingung mencari kerja karena lapangan pekerjaan di daerahnya minim. Di sisi lain, gadis tomboy itu takut membebani orangtuanya. Akhirnya, ia memutuskan ikut saudara ke Bekasi.

"Mau enggak mau saya memberanikan diri ke kota orang. Daripada nganggur enggak punya uang, ngerepotin orangtua di rumah. UMR di sini sama di kampung beda jauh," tuturnya.

Ia ingin berhasil di perantauan seperti para tetangga di kampung halaman. Hal itu yang membuat tekadnya bulat untuk merantau ke Bekasi walaupun tak punya keahlian dan pengalaman. "Banyak sih yang dari Bekasi atau Jakarta pulang ke desa bawa duit, pengen juga seperti gitu. Semoga saja Bekasi tidak sekejam Jakarta," ucapnya.

Berbeda dengannya, Ahmad Fauzi, 31, warga Cirebon, sudah sepekan di Bekasi di rumah saudaranya. Dia mengaku tidak siap mengadu nasib di Bekasi. Dia menilai, kehidupan di Bekasi tak ubahnya seperti di Ibu Kota. Kota yang kejam bagi mereka yang tidak memiliki keahlian. "Keahliannya bukan kayak nyapu, nyuci piring ya.

"Senada, warga asli Pacitan, Tumentung, 41, mengaku singgah sementara di Bekasi guna berlebaran dengan saudaranya. Menurutnya, mengadu nasib di kota orang lebih rumit. "Enggak ada keinginan kerja di Bekasi, kerja aja di kampung lebih enak. Susah ah," imbuhnya.

Bagi Kepala Disdukcapil Kota Bekasi, Alexander Zulkarnaen, siapa pun boleh datang ke Bekasi. Namun, tujuannya harus jelas. Jika ingin bekerja, harus memiliki kemampuan dan mental baja. "Sebab, mencari kerja di kota berbeda dengan di desa.(Gan/J-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya