Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
KESAN megah terlihat pada bangunan berlantai empat saat memasuki pintu gerbang gedung Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 164 di Jalan Dharma Putra, Kebayoran, Jakarta Selatan. Dominasi warna kuning pucat pada bangunan dan pagar berhiaskan tumbuhan hijau yang menjalar memperkuat kesan itu. Namun, ketika langkah membawa pandangan semakin masuk ke kompleks sekolah tersebut, yang terpasang di halaman bukan paving block, apalagi keramik, melainkan onggokan tanah merah ditumbuhi rumput yang mulai meninggi.
Kemegahan fisik bangunan pun hanya terlihat pada lantai 1 dan 2, sedangkan lantai 3 dan 4 hanya terlihat jajaran tiang beton. Halaman dalam gedung berbentuk L itu juga bukan lapangan. Yang ada hanya hamparan tanah merah yang ditumbuhi rumput dan ilalang setinggi 1 meter. Beberapa material bangunan seperti pasir, bambu, dan semen yang mengering berserakan.
Tidak ada seorang pun yang terlihat mengerjakan bangunan tersebut, apalagi siswa dan guru yang tengah melakukan kegiatan belajar-mengajar. Bangunan itu memang tengah direhabilitasi. Sayangnya, proses rehabilitasi bangunan yang dimulai pada September 2012 itu terhenti atau mangkrak sejak Desember 2015. Karena itu, kegiatan belajar-mengajar 826 murid bersama 39 guru diungsikan ke Sekolah Dasar Negeri (SDN) 05, 12, dan SDN 17 Kebayoran Lama. Aktivitas mereka baru bisa dimulai pada siang hari, setelah kegiatan belajar-mengajar siswa SD selesai.
Sebetulnya, lantai 1 dan 2 gedung sekolah sudah bisa digunakan. Pintu serta jendela sejumlah ruang kelas dan laboratorium sudah terpasang. Namun, lantaran belum difungsikan, keramik putih di setiap lantai di ruangan itu tertutup debu tebal. Sementara itu, beberapa bagian dinding yang dicat warna kuning pucat terlihat mulai retak. Kendati lantai 1 dan 2 sudah bisa digunakan untuk belajar-mengajar, anak tangga yang menghubungkan antarlantai, apalagi menuju lantai 3 dan 4 yang belum selesai tergarap, masih berupa coran. Sampah kantong plastik dan bekas kemasan makanan terserak di sejumlah sudut ruangan. Mangkraknya pembangunan gedung sekolah yang begitu lama bahkan membuat siswa sejak mendaftar hingga lulus sama sekali tidak sempat menginjakkan kaki di sekolah tersebut. "Kelakar kami antara para guru, (siswa) itu alumni tiga tahun di pengungsian," kata Wakil Kepala SMP 164 Bidang Kurikulum Uus Rusliana sembari tertawa, pekan lalu.
Ia mengungkapkan rehabilitasi bangunan dikerjakan dalam dua tahap. Tahap pertama, yang dimulai September 2012, dilakukan pembangunan pada lantai 1 dan 2. Pada pertengahan 2015, pengerjaan tahap 2 dilanjutkan untuk membangun lantai 3 dan 4. Namun, sejak Desember 2015 hingga kini, pengerjaannya terhenti. "Kami tidak tahu apa alasan penghentian pengerjaan (oleh kontraktor). Kami kan tugasnya mengingatkan saja, ini kapan selesainya," ujar Uus.
Mengajar berpindah
Tersebarnya kegiatan belajar-mengajar di tiga SDN itu menimbulkan keluhan, terutama dari orangtua murid. Setiap tahun ajaran baru, soal selesainya bangunan sekolah mendominasi pertanyaan yang diajukan mereka. Demikian halnya dengan guru yang harus mengajar berpindah-pindah di antara 3 SDN. Bahkan, kendati baru bisa mengajar siang hari, para guru tetap harus datang pagi ke bangunan mangkrak itu untuk mencatatkan presensi. Meski bertahun-tahun belajar di pengungsian, murid dan pengajar sama-sama tetap bersemangat. Oleh sebab itu, nilai siswa lulusan tahun ini berada di peringkat ke-5 dari 9 sekolah di Kecamatan Kebayoran Lama.(J-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved