Karena Ganjil-Genap Uang Makan Melayang

(Putri Anisa Yuliani/J-1)
02/8/2016 01:40
Karena Ganjil-Genap Uang Makan Melayang
(MI/PANCA SYURKANI)

DENGAN wajah merengut, Indah, 30, menceritakan keluh kesahnya karena uang makan bulanan dari kantornya akan dipotong. Sebabnya, tak lain ialah kedatangannya yang dalam beberapa hari ini terlambat hingga 20 menit. Ya, sejak aturan ganjil-genap menuju kantornya diberlakukan, ia terpaksa mengendarai mobil pribadinya berputar-putar mencari jalan, keluar-masuk jalan kecil, agar sampai di kantornya di Jalan MH Thamrin. Warga Kebayoran Baru itu mengaku telah lama terbiasa menggunakan mobil pribadinya untuk ke kantor. Ia mengaku belum mau menggunakan angkutan umum karena dinilainya masih belum memberi jaminan keamanan dan kenyamanan.

senin (1/8) menjadi hari nahasnya. Ia kembali lupa bahwa tanggal 1, kemarin, hanya mobil berpelat nomor ganjil yang boleh melintas. Mobilnya yang berplat genap akhirnya diarahkan petugas ke jalur lain. "Pelat mobil saya genap. Jadi saat sudah masuk Jalan Sisingamangaraja, saya diarahkan ambil jalan alternatif lewat Jalan Asia Afrika. Aduh, jalan di situ kan lebih sempit, ya pasti lebih macet," ujar Indah. Padahal, perusahaan tempatnya bekerja telah memiliki aturan toleransi keterlambatan maksimal 15 menit atau uang makan hangus. Setiap menit keterlambatan, biaya makannya akan dikalikan Rp5.000 dan diakumulasikan setiap bulannya. "Hari ini saja sudah dipotong Rp25 ribu. Gawat nih lama-lama kalau setiap hari begini," ucapnya cemas. Indah pun tak bisa memprotes ketika ia diarahkan petugas ke jalur alternatif.

Ia mengaku sudah tahu kebijakan ganjil-genap tersebut diterapkan di sejumlah jalan. "Sudah tahu di televisi dan berita di media massa. Tapi saya lupa betul kalau hari ini ganjil. Sebenarnya malah dari jauh hari saya sudah sampai memikirkan akan berangkat lebih pagi saat tanggal ganjil atau bertukar mobil dengan suami saya. Ya, namanya juga apes hari ini," ujar Indah. Cerita lain dialami Rusdi, 40, warga Grogol, Jakarta Barat. Ia mengaku dibuat repot karena sehari-harinya banyak beraktivitas di kawasan yang terkena aturan ganjil-genap. "Repot karena mobil cuma satu, sementara saya sehari-harinya beraktivitas di Jalan Sudirman sampai Jalan Merdeka Barat. Bakal sering lewat jalan belakang nih jadinya. Terpaksa deh bermacet-macet ria," ujarnya. Meski demikian, Rusdi mengaku setuju dengan kebijakan apa pun yang ditempuh pemerintah guna mengurangi kemacetan meski bersifat lokal saja. "Saya dukung. Namanya sedang dicoba. Nanti dari sekian banyak cara akan dipilih mana yang cocok untuk diterapkan. Kalau enggak cocok, ya diganti. Saya ikuti perkembangan saja," terangnya.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya