Infus Langka, Rawan Dipalsukan (Tulisan 2)

Tim Investigasi
25/7/2016 11:00
Infus Langka, Rawan Dipalsukan (Tulisan 2)
(ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto)

VAKSIN palsu beredar diawali dengan kelangkaan vaksin asli di jaringan distribusi. Belakangan, infus juga dikhawatirkan akan dipalsukan karena mulai sulit diperoleh.

Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia dr Marius Widjajarta mengungkapkan pihaknya menerima laporan larutan infus dasar mulai langka pada Februari 2016.

Kelangkaan larutan infus dasar meliputi NaCL (dehidrasi), Ringerlaktat (cairan pengganti makanan), dan Dextrose 5% (menstabilkan tekanan darah).

“Berbagai rumah sakit resah karena tidak bisa mendapatkan. Banyak apotek tidak menjual lagi. Kalau kelangkaan ini tidak ditanggulangi segera, kejadiannya akan sama seperti vaksin palsu,” terangnya.

Bisnis farmasi, menurut Marius, masif dan menggiurkan sehingga rawan terjadi tindak kecurangan termasuk pemalsuan dan korupsi anggaran negara yang nilainya mencapai Rp2,5 triliun.

“Dulu ada tender pengadaan obat di Kemenkes. Satu perusahaan menang tapi langsung dibatalkan tanpa alasan yang jelas. Ini aneh. Jadi bukan tidak mungkin ada upaya kecurangan lainnya. Diawasi saja bisa curang, apalagi tidak diawasi,” sesalnya terkait turunnya Permenkes yang mengebiri kewenangan pengawasan BPOM RI.

Seorang sumber di Dinas Kesehatan Sumatera Selatan mengakui masifnya perilaku nakal dan korup di institusinya. Anggaran negara untuk pengadaan vaksin biasanya diperas habis.

“Semuanya nakal. Bagian lelang melakukan tender lalu membuka kesempatan selebar lebarnya kepada siapa saja. Perusahaan yang tidak mengerti farmasi pun bisa menang,” ungkapnya.

Lebih celaka lagi, lanjutnya, vaksin dari perusahaan yang menang tender tidak diuji secara laboratorium untuk memastikan kandungan dan keasliannya.

"Cara-cara tender sekarang ini sangat berbahaya bagi kesehatan. Panitia hanya mementingkan pendapatan dari pemenang tender. Padahal setidaknya 20% dari dana anggaran yang dikucurkan negara sudah disunat, tambah lagi dari peserta lelang."

Direktur Bina Pelayanan Kefarmasian Kemenkes Engko Sosialine mengaku belum mendapat informasi mengenai kelangkaan cairan infus. Pun, jika ada laporan masih harus ditelusuri lebih lanjut untuk memastikan kebenaran dan detailnya.

"Kosongnya dimana, lalu apanya yang kosong, kan harus diselidiki dulu. Cairan infus itu banyak macamnya, tapi selama ini kami tidak pernah dapat laporan," ujarnya.

Ia menegaskan ketersediaan obat, vaksin, termasuk cairan infus sudah diatur oleh pemerintah.

"Soal teknis tanya langsung ke Bu Dirjen. Sekarang kami satu pintu, saya hanya mengurus administrasi saja," lanjut Engko.

Staf Apotek Rakyat Mitra Farma di lantai dasar Pasar Pramuka membenarkan NaCL ukuran 50 ml memang langka sejak Januari dan banyak dicari orang.

"Tapi baru-baru ini sudah masuk dengan harga Rp13 ribu per pak," cetusnya.

Seorang pasien yang dirawat di RS Mitra Keluarga Cibubur juga menyatakan tidak mengalami masalah dengan pengadaan infus yang dibutuhkannya. (Ard/Ami/T-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya