41 Kelurahan Masuk Daerah Rawan Banjir

Put/KG/J-4
25/7/2016 04:01
41 Kelurahan Masuk Daerah Rawan Banjir
(ANTARA/Vitalis Yogi Trisna)

BEBERAPA kawasan daerah aliran sungai (DAS) di 41 kelurahan di Ibu Kota saat ini masih rawan tergenang banjir.

Kepala Satuan Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta Deny Wahyu Purwoko mengatakan wilayah-wilayah tersebut rawan karena memiliki jarak cukup dekat dengan sungai-sungai besar.

BPBD DKI melakukan pemetaan dengan indikator permukiman di sekitar daerah aliran sungai radius 20 meter sampai dengan 30 meter dari tubir sungai.

Variasi genangan jika terjadi hujan deras bisa mencapai 120 cm, tergantung ketinggian muka air di wilayah hulu.

"Itu daerah rawan terdampak. Artinya bisa tergenang bisa tidak. Tergantung tinggi muka air di hulu tiap aliran sungai," ujarnya saat dihubungi, kemarin.

Wilayah-wilayah yang ra-wan tergenang di antaranya di DAS Ciliwung, DAS Pesanggrahan, DAS Cipinang, DAS Sunter, DAS Angke, dan DAS Krukut.

Deny menjelaskan lebih lanjut, antisipasi dampak genangan yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI ialah mempercepat pembangunan rumah susun sewa (rusunawa) agar bisa merelokasi warga di bantaran sungai.

Selain itu, terus melanjutkan pembangunan turap atau sheetpile atau jalan inspeksi.

"Sedang proses oleh Kementerian PU dan Dinas Tata Air untuk pembangunan sheetpile. Dinas Perumahan dan Gedung Pemda sedang proses pembangunan rusun untuk relokasi penduduk di sekitar bantaran sungai-sungai tersebut," ujarnya.

Selama kondisi belum berubah karena normalisasi sungai yang belum usai, lanjut dia, BPBD terus melakukan sosialisasi peringatan dini kepada warga ketika cuaca sedang hujan deras ataupun ketinggian muka air Ben-dung Katulampa meningkat.

Pasukan tanggap darurat di tiap kelurahan pun selalu disiagakan.

"BPBD memberikan peringatan dini bagi warga sekitar aliran sungai apabila terjadi peningkatan tinggi muka air di hulu sungai."

Daerah tampungan air

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok mengungkapkan lahan di Jalan Perdatam, Kelurahan Ulujami, Jakarta Selatan, dahulu merupakan danau.

Karena itu, kontur lahan sedikit cekung di beberapa bagian dan mengakibatkan permu-kiman di kawasan tersebut rutin disambangi banjir.

"Itu dulunya bekas danau, makanya sering banjir tiap hujan," ujarnya.

Ahok pun sudah menawarkan kepada warga agar tanah tersebut dijual dan dijadikan daerah tampungan air.

Namun, keinginan itu ditolak warga.

Ahok tidak menempatkan pompa di permukiman karena dinilai tidak efisien.

Itu karena jumlah rumah warga yang rutin tergenang banjir hanya 20 unit, sementara biaya pengoperasian pompa bisa mencapai miliaran.

Terkait dengan ancaman genangan secara keseluruhan, Ahok menilai kinerja Dinas Tata Air sudah lebih baik.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya