Kebutuhan Air Baku di Jakarta makin Mendesak

Putri Anisa
22/7/2016 08:50
Kebutuhan Air Baku di Jakarta makin Mendesak
(ANTARA/Fanny Octavianus)

KEBUTUHAN air baku di Jakarta semakin mendesak. Penambahan penduduk yang beralih menggunakan pipa, tidak sejalan dengan penambahan pasokan air baku. Penghuni rumah susun (rusun) menjadi yang paling rentan terkena dampaknya jika pasokan air tidak ditambah.

Direktur Utama Perusahaan Air Minum (PAM) Jaya Erlan Hidayat menjelaskan tanpa melakukan penambahan pelanggan dua mitra pengelola air, yakni PT PAM Lyonnaise Jaya dan PT Aetra, angka pengguna air pipa dipastikan bertambah karena pengalihan penduduk yang tinggal di bantaran kali dan jalur hijau.

"Pertumbuhan pengguna di Jakarta terlampau cepat. Sementara, stok air baku dari 2007 sampai sekarang tidak pernah bertambah. Ada yang harus dilakukan agar tidak ada krisis air," kata Erlan dalam talkshow PAM Jaya di Jakarta Pusat, kemarin (Kamis, 21/7).

Jumlah pasokan ideal air baku saat ini, kata dia, seharusnya mencapai 20 ribu liter perdetik. Namun, pada kenyataannya, kapasitas air baku yang masuk baru mencapai 16.800 liter per detik.

Kekurangan air baku sebesar 3.200 liter per detik saat ini bisa terus bertambah hingga mencapai 13 ribu liter per detik pada 2020 jika tidak ada penambahan pasokan.

Akibat kekurangan air baku, Erlan mengatakan perluasan pelayanan masih cukup sulit dilaksanakan. Padahal, perluasan jaringan air pipa mutlak dilakukan agar penyedotan air tanah bisa dikurangi.

Pencegahan penyedotan air tanah yang belum maksimal berimbas pada terus menurunnya muka tanah di Jakarta yang bisa membuat utara Jakarta terendam banjir rob semakin parah dari waktu ke waktu. Tidak hanya itu, semakin berkurangnya air tanah menyebabkan intrusi tanah laut semakin meluas.

Air sungai
Solusinya, pemanfaatan air sungai harus segera dimaksimalkan melalui pembangunan instalasi pengelolaan air atau <>water treatment plant (WTP). Namun, hingga kini ,Surat Izin Pemanfaatan Air (SIPA) yang sudah diajukan PAM Jaya kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PU-Pera) yang sudah diajukan sejak November 2015 belum juga diterbitkan.

"Kami bisa kalau mau bangun. Tapi kalau airnya belum boleh dipakai bagaimana? Sungai Pesanggrahan, Sungai Krukut, Kanal Banjir Timur, Kanal Banjir Barat kan bukan punya kami," jelasnya.

Jika empat WTP di empat sumber air tersebut beroperasi, Erlan optimistis pihaknya bisa mendapat tambahan air baku sebesar 7.000 liter per detik.

Dalam kesempatan yang sama, pengamat kebijakan publik Universitas Indonesia Agus Pambagio menilai untuk melancarkan pasokan air baku diperlukan peran dan komitmen dari pemerintah pusat.

"Peran pemerintah sangat penting. Pemerintah menargetkan 10 juta sambungan air pipa di seluruh wilayah DKI. Namun, sampai kini tidak ada satu pun gerakan dari pemerintah mengenai dari mana air itu berasal. Tentunya, jaringan tanpa air baku hanya akan jadi pipa kosong," kata Agus. (Put/J-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya