Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
TEKNOLOGI seharusnya menjadi jembatan bagi dunia pendidikan untuk berkembang lebih maju. Ia ibarat pisau bermata dua. Jika salah diterapkan, ia akan mencelakai penggunanya. Karena itu, pencerdasan orangtua dan pendidik terhadap teknologi sangat dibutuhkan. Demikian benang merah dari pakar pendidikan Arief Rahman, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, dan sosiolog Universitas Padjadjaran, Yusar, yang dihubungi Media Indonesia secara terpisah, Kamis (21/7). Gim, bagi Arief Rahman, merupakan produk teknologi yang bisa dimanfaatkan untuk perkembangan pendidikan.
Namun, dalam pelaksanaannya, perlu ada pencerdasan terhadap setiap orangtua dan guru mengenai teknologi itu. Hal itu dilakukan guna menghindari munculnya potensi-potensi membahayakan dari gim itu. "Kehadiran gim berkonsep seperti ini selalu bisa bagus karena ada unsur interaksi dan berbagi informasi asal diimbangi dengan tata krama yang baik. Namun, kalau tidak dibarengi dengan peraturan yang memiliki payung hukum, dampaknya bisa saja menjadi liar. Itu lebih berbahaya," jelas Arief. Di mata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, produk gim, seperti permainan Pokemon Go yang tengah menjadi tren, bisa memberikan dampak positif atau negatif. "Ini memberikan anak bermain dan bergerak, tapi di sisi lain seperti layang-layang. Saat layang-layangnya putus, kita jadi sering lupa dan akhirnya menabrak. Ini harus kita cegah," imbau Anies.
Untuk itu, Anies menginginkan agar pengelola Pokemon Go menempatkan lebih banyak intisari di kawasan-kawasan pendidikan, seperti di museum dan lokasi Taman Mini Indonesia Indah. "Permainan bisa diarahkan mencari di tempat-tempat positif. Letak proses pembelajaran, di situ pula letak Pokemon," tukasnya. Sosiolog Universitas Padjadjaran, Yusar, menilai terobosan teknologi dalam gim, seperti Pokemon Go, mampu mengambil hati masyarakat Indonesia karena bisa diakses dalam genggaman dan menawarkan cara bermain yang baru, yaitu permainan bergerak. Jenis gim seperti ini merupakan bentuk penyesuaian dengan kondisi masyarakat masa kini yang ingin serbapraktis. Namun, di sisi lain, kondisi itu juga menuntut mereka untuk bergerak.
"Dulu kita bermain ke luar ruangan karena sarananya ada, lahan-lahan tempat bermain belum beralih menjadi tempat bisnis atau permukiman. Kemudian ada pula masa ketika muncul gim online dan pemainnya identik dengan keadaan individualis karena fokus di depan layar. Sekarang muncul gim yang bisa diakses melalui smartphone, tapi juga menuntut penggunanya bergerak dan ternyata responsnya bagus karena cara bermain seperti ini merupakan hal baru. Namun, di satu sisi lain begitu familier," kata Yusar.
Selama ini, lanjutnya, gim daring identik dengan berdiam diri di suatu tempat sehingga tak jarang menyebabkan penggunanya menjadi individual, bahkan antisosial.
Sementara itu, gim seperti Pokemon Go di satu sisi bisa menciptakan sebuah interaksi dan sharing informasi antara pengguna-penggunanya. "Sebagai contoh, waktu saya sedang di kampus, beberapa mahasiswa ada yang sibuk mencari Pokemon dan secara natural terjadi interaksi antara mereka, menanyakan di mana letak Poke-Stop. Komunikasi itu terbangun di antara mereka, bisa bergerak, tapi di sisi lain juga saling tukar informasi. Ini hal yang cukup baik sebenarnya," cetusnya.
Namun, di sisi lain, ia menekankan perlu ada kewaspadaan dari para pemain karena bahaya yang disebabkan bisa berdampak langsung kepada penggunanya. "Dalam aspek individu, kalau gim biasa, misal yang mengandung kekerasan, dampaknya lebih ke kognisi si pengguna yang terancam mengadopsi nilai-nilai kekerasan itu. Kalau gim seperti Pokemon Go ini, mungkin secara kognisi tidak terlalu berdampak, tapi karena terlalu fokus pada layar ponsel, justru bisa menyebabkan penggunanya terkena bahaya, entah itu terjatuh, menabrak, dan sebagainya," jelasnya.
Demam Pokemon Go, ungkap Yusar, memperlihatkan betapa konsumtifnya masyarakat Indonesia terhadap hal-hal yang baru. Kendati gim itu belum diedarkan secara resmi, animo terhadap gim tersebut begitu besar. Ini memprihatinkan. "Tapi prediksi saya, fenomena seperti ini biasanya bersifat sementara karena masyarakat masih penasaran. Nanti masyarakat bosan dan mulai meninggalkan gim ini," ujar dia dengan yakin.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved