Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMINDAHAN operasional bus antarkota antarprovinsi (AKAP) dengan tujuan Jawa Tengah dan Jawa Timur ke Terminal Terpadu Pulo Gebang, Jakarta Timur, belum sepenuhnya ditaati. Perusahaan otobus (PO) berdalih masih banyak kekurangan di sana.
Di Terminal Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (19/7) siang contohnya, tak terlihat penertiban oleh petugas. Sehari sebelumnya, petugas dengan tegas menghalau dan menindak PO yang melanggar. Beberapa kali terlihat armada bus tujuan Pulau Jawa dan Sumatra menjemput penumpang di dalam.
Naik ke lantai 2 terminal, di depan eskalator beberapa pekerja PO berebut menghampiri tiap orang yang datang. Mereka menawarkan tiket dan tidak bosan bertanya tujuan orang bersangkutan akan pergi. Jejeran puluhan loket agen bus masih tetap beroperasi.
Rusdi, 45, perwakilan dari PO Handoyo di Terminal Rawamangun, mengatakan, jika mereka dipaksa pindah saat ini, penumpang dikawatirkan akan kebingungan lantaran tidak memiliki informasi dari mana bus diberangkatkan.
Padahal, sejak 18 Juli 2016, kegiatan penjualan tiket dan pemberangkatan bus dengan tujuan Jawa Tengah dan Jawa Timur sudah harus pindah ke Terminal Terpadu Pulo Gebang.
Itu sesuai surat edaran yang ditandatangani Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Andri Yansah tertanggal 12 Juli 2016. Jika melanggar, bus bersangkutan akan dikenai sanksi berupa tilang, pengandangan kendaraan, dan pembekuan izin trayek.
"Sudah izin sama petugas (untuk beroperasi sementara di Terminal Rawamangun). Masalahnya di kita saja sudah ada yang beli tiket 25 (Juli 2016). Tempat saya khusus melayani keberangkatan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kasihan penumpang kalau sekarang kita pindah. Di tiket memang ada nomor telepon kantor, tapi kalau penumpang mepet datangnya ke sini (Terminal Rawamangun), bisa enggak keburu harus pindah ke (Terminal) Pulo Gebang," ungkap Rusdi di lokasi, Selasa (19/7).
Kebijakan pemindahan terminal, menurut Rusdi, sebenarnya ditolak hampir seluruh PO. Kesiapan Terminal Terpadu Pulo Gebang dinilai masih belum memadai terutama terkait dengan akses keluar masuk terminal dan kendaraan angkutan perkotaan (angkot) yang beroperasi. Selama ini, justru banyak angkot yang tidak masuk terminal dan hanya berputar di luar.
"Bagaimana penumpang mau nyaman pergi keluar kota dari Pulo Gebang kalau mau ke sana saja susah? Belum lagi masalah tempat cuci bus di dalam terminal. Pengelola belum juga menyediakan, padahal itu penting ada," gumam Rusdi.
Soal akses itu diamini Faisal, 39, perwakilan PO Gumarang Jaya yang melayani perjalanan tujuan Sumatra Barat. Belum siapnya akses transportasi menuju Terminal Pulo Gebang akan mendorong menjamurnya keberadaan agen bus ilegal di pinggir jalan. "Terminalnya jauh, angkotnya susah, ya... pasti muncul terminal bayangan. Bisa tegas tidak aparat menindaknya?" kesal Faisal.
Saat dikonfirmasi, Kepala Terminal Rawamangun Bastian mengaku kewalahan atas sikap PO. Jika ditindak, mereka malah melawan petugas.
"Masalah penertiban kita tak bisa berbuat banyak. Tahu sendiri, tidak cuma di Terminal Rawamangun, di Pulogadung juga pada melawan. Maaf saya tidak bisa berkomentar banyak ya. Silakan ke Jati Baru (Dinas Perhubungan DKI Jakarta) saja," singkatnya.(J-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved