SEBELUM matahari terbit, kesibukan telah terlihat di setiap rumah di Kampung Tanah Koja, Cengkareng, Jakarta Barat, Sabtu (18/7). Para ibu cekatan memasak sajian yang untuk disuguhkan dalam parade Lebaran Betawi pada pagi nanti. Aroma khas sayur asem, ikan asin, dan sambal terasi menguar hingga ke luar rumah. Ada pula tempe dan tahu goreng serta lalapan sebagai pelengkapnya. Pada Lebaran Betawi, kolaborasi menu khas Betawi itu lebih laris jika dibandingkan dengan ketupat, opor, dan rendang.
Kesibukan itu berlaku bagi ibu-ibu yang kampungnya dijadwalkan menjadi tuan rumah dalam tradisi yang sudah dipelihara turun-temurun. Masakan itu dihidangkan secara prasmanan untuk tamu yang berkunjung.
Nasroh, 34, ibu rumah tangga di Kampung Tanah Koja, mengatakan sering kali para ibu harus memasak berkali-kali dalam satu hari, bergantung pada banyaknya tamu yang datang. Prinsip mereka jangan sampai ada meja yang kosong dari makanan.
"Memang dari pagi, bahan makanan sudah disiapkan sebelumnya. Masak dari pagi. Di meja (prasmanan) habis, masak lagi. Jangan sampai kosong dah tuh meja sama makanan," tegasnya.
Tradisi prasmanan yang menjadi sajian parade Lebaran itu masih terbilang baru. Sebelumnya, kesibukan warga menyambut parade Lebaran itu justru terlihat sebelum menjelang Hari Raya Idul Fitri.
M Tani, 55, mengatakan kesibukan warga menyambut Lebaran itu terlihat dari membuat kue Lebaran yang dilakukan bersama-sama dalam satu kampung. Salah satunya membuat makanan khas Betawi, dodol.
"Dulu seminggu sebelum Lebaran warga sudah ngaduk dodol, rame-rame. Ngaduk-nya saja sampai seharian. Buatnya banyak, berapa kilo (kilogram), nanti dibagi-bagi," tuturnya.
Namun, sayangnya, kini tradisi itu telah hilang. Warga kini lebih memilih membuat kue masing-masing. Bahkan ada yang memilih cara praktis dengan membeli kue jadi.
"Makanan khas Betawi yang disajikan juga banyak yang hilang. Paling tersisa dodol sama tape uli saja. Dulu mah ada geplak. Segala macam ada," ungkapnya.
Meskipun demikian, makanan berlimpah tetap disajikan selama Lebaran Betawi itu. Demi kemeriahan, warga rela mengeluarkan uang banyak hanya untuk membeli makanan sebagai sajian para tamu.
Syahroni, 60, misalnya. Pedagang buah sempat terbelalak saat Syahroni membeli satu peti jeruk dan satu peti kelengkeng untuk disajikan kepada para tamu.
"Pedagang tanya buat apa, saya bilang buat Lebaran. Dia enggak percaya. Kalau orang sini, mau berapa pun isi dompet, semuanya dikeluarin buat siapin makanan Lebaran," kata Syahroni.(J-4)