PULUHAN kendaraan, baik motor maupun mobil, terlihat berjejer di tepi jalan-jalan di Kampung Koja, Cengkareng, Jakarta Barat, pada Sabtu (18/7). Kendaraan-kendaraan itu milik warga dari Kampung Pondok Sambi, Kampung Gunung, Pondok Randu, Kembangan, Rawa Buaya, Bojong, dan Kalideres yang sedang bersilaturahim dalam parade Lebaran Betawi.
Mereka memilih memarkir kendaraan sebelum berkeliling dari rumah ke rumah karena hampir setiap rumah di daerah tersebut akan mereka singgahi. Tak jarang mereka terpaksa hanya bertamu satu dua menit saja karena masih ada rombongan dari kampung lain yang bertamu.
"Yang penting badan nempel di bangku. Kalau mau makan silakan makan yang disediakan tuan rumah. Kalau enggak ya geser ke rumah sebelah," kata M Tani, 55, salah satu warga yang bertamu bersama keluarga besarnya.
Kondisi demikian membuat setiap gang di Kampung Tanah Koja dipadati ratusan warga yang hendak bergantian masuk ke setiap rumah. Mereka yang beda kampung ketika bertemu di jalan pun saling mengantre bersalaman. "Jadi di jalan juga bersalaman berbaris panjang, padat, dan ramai," ujarnya.
Kunjungan ke satu kampung itu kerap membutuhkan waktu seharian karena kebanyakan mereka masih bertalian keluarga. "Ada ratusan rumah yang masih ada dalam silsilah keluarga. Serombongan masuk, serombongan keluar."
Perbedaannya, saat tradisi ini dimulai ratusan tahun lalu, warga melakukannya dengan berjalan kaki dari kampung ke kampung. "Jaraknya dua kilometer. Bahkan lima kilometer juga ada. Jalan kaki ke kampung itu masuk dari satu pintu rumah ke pintu rumah lainnya," kata Tani.
Namun, saat ini, warga lebih banyak membawa kendaraan pribadi mereka ketimbang berjalan kaki. "Berasa kurang khidmat kalau sekarang."
Nurjaman, 39, ialah salah seorang warga yang memilih mengendarai motor ketimbang berjalan kaki. Ia mengaku terpaksa menggunakan kendaraan karena membawa anak kecil.
"Saya misah dari keluarga besar. Mereka jalan kaki. Saya bersama istri dan anak umur dua tahun ini naik motor. Nanti gabung lagi dengan yang lain, jalan bertamu dari pintu ke pintu," kata Nurjaman.
Bagi Nurjaman, meski ia menggunakan motor, itu tidak mengurangi nilai tradisi yang sudah turun-temurun tersebut. "Yang penting silaturahim ke keluarga, berkunjung dan dikunjungi itu. Yang disayangkan kalau tidak ikut karena berhalangan kerja," pungkasnya.(Mal/J-4)