Headline
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Surya Paloh tegaskan Partai NasDem akan lapang dada melakukan transformasi regenerasi.
Kumpulan Berita DPR RI
SEKITAR 100 orang dengan mengenakan pakaian terbaik mereka tumpah di jalanan di Kampung Tanah Koja, Sabtu (18/7). Pada hari Lebaran kedua itu, warga asli Betawi tersebut mendatangi satu per satu rumah untuk bersilaturahim, bermaaf-maafan, dan larut dalam sukacita Lebaran. Para tamu itu merupakan warga asal Kampung Pondok Sambi, Kampung Gunung, Pondok Randu, Kembangan, Rawa Buaya, Bojong, dan Kalideres. Mereka masih bertalian saudara dengan warga di Kampung Tanah Koja.
Acara silaturahim di Kampung Tanah Koja itu merupakan pembuka dari parade Lebaran Betawi yang digelar enam hari berturut-turut. Syahori, 60, tokoh masyarakat di Duri Kosambi menuturkan tradisi yang dipelihara selama tiga generasi atau ratusan tahun lalu itu bermula dari kebiasaan mengunjungi guru-guru besar atau para kiai kampung saat Lebaran.
"Awalnya, di Kampung Tanah Koja itu banyak kiai besar, guru ngaji, dan para orang tua. Orang-orang dari kampung lain berkunjung ke sana untuk silaturahim. Makanya titik awal kunjungan ialah Tanah Koja," ujarnya saat ditemui di sela-sela kegiatan silaturahim.
Setelah itu, kata dia, para orang tua ataupun kiai di Tanah Koja akan balik mengunjungi orang-orang yang telah datang ke tempatnya di hari berikutnya sebagai balasan karena telah dikunjungi.
"Jadi, orang Tanah Koja mengunjungi orang Pondok Sambi di hari berikutnya, lalu ke Pondok Randu di hari berikutnya, orang Pondok Sambi pun ikut mengunjungi ke situ. Begitu seterusnya," papar Syahori.
Parade Lebaran itu biasanya dimulai pada hari kedua Lebaran karena pada Lebaran hari pertama biasanya warga dari delapan kampung tersebut bersilaturahim dengan keluarga terdekat dan tetangga di lingkungan masing-masing.
Pada hari kedua Lebaran, kampung yang menjadi tuan rumah ialah Kampung Tanah Koja dan disusul Kampung Pondok Sambi yang menjadi giliran. Lebaran hari keempat ada tiga kampung yang menjadi tuan rumah, yakni Kampung Gunung, Pondok Randu, dan Kembangan. Lebaran hari kelima di Kampung Rawa Buaya, dan juga Bojong. Pada hari terakhir, parade ada di Kampung Kalideres. Jarak dari satu kampung ke kampung lain kira-kira mulai 2 hingga 5 Km.
Urutan saling mengunjungi itu terbentuk dengan sendirinya, yakni melihat tokoh yang paling dituakan di setiap kampung. Urutan kampung yang dikunjungi itu terus bertahan hingga saat ini.
"Jadi, generasi sekarang tinggal ikuti jadwal yang sudah terbentuk dari dulu ini saja. Orang sudah tahu jadwal tanpa harus diingatkan sebelumnya. Tinggal bagaimana orangtua mengajak anak-anak mereka untuk ikut bersilaturahim sekaligus menjaga tradisi," ujarnya.
Parade Lebaran Betawi itu kemudian menular ke beberapa kampung lain, seperti Kampung Gunung, Kembangan, Rawa Buaya, Bojong, dan Kalideres. Menurut Syahori, sering ada tambahan hari mengingat ada beberapa kampung lain yang tidak masuk jadwal ikut berpartisipasi.
"Karena mereka mengunjungi kampung kami, kami harus mengunjungi mereka supaya tidak ada rasa punya utang sama mereka," jelasnya.
Belakangan ini, tidak hanya warga asli Betawi saja yang ikut parade ini. Warga pendatang yang tinggal membaur di kampung-kampung itu turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. "Di setiap kampung saja 80% penduduk asli, makanya ramai. Warga pendatang juga ikut dengan sendirinya. Budayanya merembet ke mereka juga ikut."
Banyak pelajaran
Namun seiring dengan berjalannya waktu, Syahori menyimpan kekhawatiran. Ia tidak ingin tradisi ini lama-lama akan hilang tergerus waktum mengingat kondisi zaman yang sudah berbeda jauh dari awal tradisi itu dibentuk. Apalagi, kebanyakan anak muda yang bekerja tidak mendapat libur banyak saat Lebaran.
"Kekhawatiran ini terutama bagi anak muda. Sekarang mereka hari ketiga Lebaran saja sudah masuk kerja, mengatur waktunya susah. Dulu kan enggak. Dulu orang sini cuma dagang dan bertani. Semau kita saja Lebaran berapa hari."
Namun, lanjutnya, sebagai tokoh masyarakat, ia tetap akan memberikan arahan kepada anak muda, khususnya untuk terus menjaga tradisi tersebut. "Kami tetap ikhtiar, tradisi ini akan tetap dipertahankan," ujarnya.
Tokoh masyarakat lainnya, Juaini, 62, berharap tradisi parade Lebaran Betawi itu dapat dipertahankan terus oleh generasi-generasi berikutnya. Karena selain mempertahankan warisan nenek moyang, tradisi itu memiliki banyak pelajaran. Dalam keseharian, belum tentu kita bisa bertemu langsung dengan berbagai tokoh dan tetua kampung.
"Selain silaturahim, orang yang berkunjung bisa mendapatkan ilmu. Khususnya untuk anak muda. Misalnya, di kampung ini terkenal dengan orang-orang yang kuat agamanya, di kampung lain ada yang jago ilmu berdagangnya. Jadi, anak muda bisa belajar dari mereka," tuturnya.
Abdul Ghofur, 25, pemuda di Kampung Tanah Koja, menjadi salah satu generasi muda yang ikut larut dalam parade Lebaran Betawi. Ia mengaku bangga bisa ikut ambil bagian dalam tradisi itu.
Bagi Ghofur, banyak pelajaran yang didapat dari tradisi itu, terutama untuk menjaga silaturahim dan pertalian dengan keluarga besar. "Tradisi ini hanya ada di sini saja. Itu yang bikin saya bangga," kata Ghofur.
Sementara itu, Haerudin, Ketua RW 03 Duri Kosambi, mengatakan sebagai orang Betawi dan masyarakat sekitar yang juga mayoritas Betawi Asli, ia akan berupaya memelihara tradisi Lebaran tersebut.
"Sebagai pejabat RW, tentu kami akan imbau warga, khususnya warga Betawi yang merayakan hari kemenangan Idul Fitri ini untuk mempertahankan tradisi yang sudah lebih dari 100 tahun ini," pungkasnya.(J-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved