Kudapan Khas Orang Gedongan

(Gan/Beo/J-4)
15/7/2016 05:00
Kudapan Khas Orang Gedongan
(MI/RAMDANI)

SJARIFUDDIN teringat masa mudanya saat melihat makanan kenyal kecokelatan di atas meja makannya. Meski kudapan tersebut masih bisa ia jumpai, rasanya tak selegit buatan almarhum ibunya. Pria berusia 64 tahun itu menuturkan dodol memang terkenal sebagai camilan khas orang Betawi. Di perkampungan Betawi di Pesangrahan, Jakarta Selatan, dodol dahulu dikenal sebagai makanan elite. Hanya orang gedongan yang bisa menyajikan dodol saat Lebaran.

"Pada zaman awal kemunculan dodol, makanan tersebut hanya ada di rumah orang kaya," ungkap Sjarif saat ditemui beberapa waktu lalu. Sjarif menjelaskan, saat ia masih kanak-kanak, bahan baku pembuat dodol memang amat mahal. Mulai santan, tepung ketan, gula, hingga upah tenaga pengaduk. Dahulu, pengerjaannya pun serbamanual. Santan yang digunakan diperoleh dari kelapa yang diparut bukan dengan mesin parut. Tepung ketan pun dihasilkan dari beras ketan yang ditumbuk sendiri.

Belum lagi wajan yang digunakan untuk menguleni dodol pun dibuat dari baja dengan diameter mencapai 1,5 meter. Tungku yang digunakan untuk memasak dodol tersebut pun harus memakai bahan bakar kayu. Karena itu, proses pengerjaan dodol butuh ketelatenan dan tenaga besar untuk mengaduk. "Lama-lama kan berat. Awalnya ringan, tapi kalau sudah mulai mengental, tidak bisa hanya satu orang yang mengaduk," kata Sjarif. Pada proses pengadukan dodol, lanjut dia, tempat yang digunakan untuk mengaduk pun tidak bisa sembarangan.

Pengadukan harus dilakukan di tempat terbuka, tetapi mesti terhindar dari terik panas dan hujan. Tuan rumah pembuat dodol pun harus menyewa jasa para tetangga untuk mengaduk. "Jasa pengaduk amat diperlukan, apalagi para lelaki, sebab adonan dodol sama sekali tidak bisa ditinggal walau hanya sebentar," tambahnya. Karena itulah, zaman dahulu dodol memang hanya dikenal sebagai kudapan khas orang gedongan. Pembuatan dodol memang membutuhkan biaya besar.

Bukan hanya mahal dalam pembelian bahan baku, biaya yang dikeluarkan untuk pembuatannya pun mahal. "Kalau dihitung-hitung, mah, bisa habis puluhan ribu. Zaman dulu itu mahal. Dulu uang Rp10 ribu saja sudah kayak uang Rp1 juta zaman sekarang," pungkasnya. Saat ini, sajian khas Betawi justru mulai ditinggalkan.

Hanz, warga Betawi yang tinggal di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, mengaku kue-kue Lebaran yang disajikan di rumahnya lebih modern dan tidak berbau Betawi seperti brownies, es krim, dan yoghurt. Hans yang berasal dari kalangan berada itu menuturkan saat ini ibunya tidak punya waktu banyak untuk membuat makanan ringan atau minuman khas Betawi seperti selendang mayang dan kue pepe.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya